Selasa, 14 Juli 2015

“HATI GERING KERING KERONTANG” Karya : Ki Slamet 42

Image "Ki Slamet 42" ( Foto: sp )
Ki Slamet 42
 
“HATI GERING KERING KERONTANG”
Karya : Ki Slamet 42

Hingga pukul dua belas, tengah malam begini
Aku masih jua belum bisa,  pejamkan mata ini
Maka,  kuambil gitar di dalam bilik kamar sepi
Aku nyanyikan kidung sunyi,  jemariku menari
Petik temali gitar lantunkan tembang memori
Lagu-lagu asmara saat masih saling mencintai

Suara gitar bersenandung kidung nan kelam
Mendayu-dayu  dibawa hembus angin malam
Menerpa tubuhku, terasa dingin mencekam
Ingatkan aku,  pada peristiwa di  masa silam
Waktu kita bernyanyi duet berdua merekam
Lagu-lagu cinta kita yang tiada bisa diredam

Nun di langit sana,  cerah terang benderang
Wajah  Sang Puteri Dewi Malam  mengayang
Ditemani  dayang-dayang,  lintang-kemintang
Sinarilah hati Pertiwi yang sedang meradang
Duka lara, sakit hati, perih, terasa sumelang
Sebab bumi, menjadi makin kering kerontang

Bukit  berwarna merah  hanya gunduk tanah
Tak ada lagi  ditumbuhi  pohon-pohon  galah
Yang dulu  jejer berderet-deret  limpah ruah
Gunung pun  letuskan magma  seperti marah
Sebab masyarakat sekitar lupalah adat polah
Budaya jaga, lingkungan alam  tumpah darah

Hingga menjelang pagi, mata tak mau kantuk
Kepalaku terantuk, hati rasa tertusuk-tusuk
Bibir bergetar bersumpah serapah mengutuk
Mengapa nasibku bisa menjadi begini buruk ?
Bagaikan bangkai,  yang sebarkan  bau busuk
Semua pergi menjauh, seraya berkasak-kusuk

Dalam kesendirian,  pikirku  gamang melayang
Tak mampu lagi untuk berpikir secara tenang
Jari jemariku pun tak bisa lagi tari bergoyang
Cuma bisa petik gitar mainkan nada sumbang
Seperti kolam,  yang tiada ikan mau berenang
Bagai hati gering,  yang kian kering kerontang

Bumi Pangaraan, Bogor
Selasa, 14 Juli 2015 - WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar