Minggu, 28 Oktober 2018

Ki Slamet Priyadi 42 "SANG BOMANTARA" Pupuh 18

Blog Slamet Priyadi :
"Sajak Puisi Ki Slamet Priyadi 42"
Senin, 29 Oktober 2018 - 07:46 WIB



Bomantara
 
Ki Slamet Priyadi 42 :
“SANG  BOMANTARA”
Pupuh XVIII ( 1-38 )

18. Pertempuran di Gunung Tenunan

(1)
Konon seperti yang sudah dikisahkan sebelumnya
Bahwa setelah Patih Pralemba, dan Patih Angkasa
Tewas, mayatnya itu dibawa ke negeri Trajutrisna
Lalu mayat keduanya dihidupkan Raja Bomantara
Dengan menciratkan air Cangkok Wijaya Kusuma

(2)
Salah satu kembang milik Dewa Wisnu yang bisa
Hidupkan manusia yang sudah meninggal dunia
Oleh Wisnu,  Kembang Cangkok Wijaya Kusuma
Dianugerahkanlah kepada puteranya Bomantara
Dari istrinya Dewi Pertiwi penguasalah Bumi loka

(3)
Raja Bomapun cipratkan ke wajah kedua patihnya
Denganlah air Kembang Cangkok Wijaya Kusuma
Maka, seketika Patih Pralemba dan Wira Angkasa
Pun hiduplah, ruhnya kembali ke jazadnya semula
Lalu bangkit menyembah kepada Raja Bomantara

(4)
Seraya berkata: “Hamba ucap kepada tuanlah raja
Banyak terimakasih karena hidupkan kami berdua
Dan saatlah ini juga kami pergi ke gunung Jingga
Tuk melanjutkan tugas dari Sri Paduka Raja Boma
Bunuh para Pertapa yang ada di gunung Jingga!”

(5)
Maka keduanya beserta segenap prajurit raksasa
Dengan perasan api dendam yang menyala-nyala
Pergi ke gunung Jingga untuk binasakan pertapa
Dan melepaskan dendamnya pada Raden Samba
Yang bunuh mereka dipertempuran sebelumnya

(6)
Alkisah demilah melihat segenap pasukan raksasa
Banyaklah berdatangan baik dari darat dan udara
Semua para pertapa yang ada di gunung Jingga
Pada berlarian ketakutan menyelamatkan dirinya
Setengahnya larilah ke dalamlah hutan belantara

(7)
Setengahnya lagi berlarian temui Raden Samba
Yang sedanglah beristirahat bersama prajuritnya
Maka Raden Samba pun bertanya pada mereka:
“Wahai para begawan pertapa,  ada bahaya apa
Sehingga berlarilah ketakutan sedemikian rupa?”

(8)
Maka menjawab salah seorang begawan pertapa:
“Ya raden, seperti kejadian yang lalu, kami semua
Akan dibinasakanlah oleh segala raksasa denawa
Yang dendam sebab dikalahkanlah Raden Samba
Mereka dipimpin Patih Pralemba, Patih Angkasa!”

(9)
Mendengar penuturan dari salah seorang pertapa
Raden Samba pun tahulah, bahwa Patih Pralemba
Dan Patih Angkasa  telah dikembalikan nyawanya
Oleh Raja Boma dengan Kembang Wijaya Kusuma
Anugerah dari sang ayahnya Prabu Betara Kresna

(10)
Sementara pasukan Raksasa yang sudah berada
Di hadapan Raden Samba serang Raden Samba
Secara dadakan dengan panah-panah berbisanya
Untunglah tiada bisa melukai tubuh Raden Samba
Karena ia pun dianugerahi kesaktian oleh ayahnya

(11)
Maka  menteri hulubalang pasukan Raden Samba
Pun membalas serangan pasukan raksasa denawa
Dengan panah-panah sakti pula sehingga mereka
Banyaklah yang mati dan pasukan raksasa denawa
Mundur kabur berhamburanlah selamatkan dirinya

(12)
Menyaksikan pasukan daratnya tiada lagi berdaya
Banyak yang tewas, maka pasukan raksasa denawa
Yang ada di udara pun datang membantu mereka
Menyerang dari udara dengan lesatkan panahnya
Yang buat pasukan Raden Samba terdesak jadinya

(13)
Beruntunglah ada seorang pertapa tua lanjut usia
Tapi tandangnya sungguh amat sakti mandraguna
Masuklah berbaur dengan pasukan Raden Samba
Ikut serang pasukan raksasa lewat senjata saktinya
Berupa tongkat terbang berputar laksanalah cakra

(14)
Maka tongkat itu pun banyak membunuh raksasa
Demi melihat prajuritnya banyak yang mati, maka
Patih Pralemba pun betapa sangatlah jadi murka
Lalu dia pun naik ke atas gajah perangnya seraya
Masuk engamuk ke dalam pasukan Raden Samba

(15)
Lalu lepas panahnya bunuhi prajurit Raden Samba
Hal itu membuat Patih Suranata dan Patih Surama
Menjadi teramatlah marah berang tiadalah terkira
Begitulah pula dengan Raden Samba Prawirajaya
Maka ia berkata kepada Begawan Karanda Dewa:

(16)
“Wahai Paman Begawan, temanilah kekasih hamba
Dewi Tunjung Sari ini, sebab hamba hendak segera
Bunuhlah Sang Patih Pralemba dan Patih Angkasa!”
Maka  menjawablah Sang Begawan Karanda Dewa:
“Baik Raden, titah hamba junjunglah di atas kepala!”

(17)
Raden Samba Prawirajaya lalu naiklah keatas kuda
Segera dipacunya mendekati Sang Patih Pralemba
Dewi Tunjung Sari tangisi kepergian Raden Samba
Dia takut pujaan hatinya Raden Samba Prawirajaya
Tewas dibunuh Patih Pralemba dan Patih Angkasa

(18)
Melihat Dewi Tunjung Sari tangisi Raden Samba,
Begawan Karanda menghiburnya seraya berkata:
“Wahai Dewi, janganlah khatirkan Raden Samba
Karena dia itu  putera Raja Prabu Betara Kresna
Yang kesaktiannya telah diturunkan kepadanya!

(20)
Denawa itu tiada dapat kalahkan Raden Samba
Menentang matanya saja, pun tiada juga bisa!”
Mendengar penjelasan Begawan Karanda Dewa
Dewi Tunjung Sari baru merasa tenang hatinya
Adapun Sang Patih Pralemba dan Patih Angkasa

(21)
Yang melihat kedatangan Raden Samba Prawira
Merasalah tercengang-cengang seketika itu juga
Berkatalah Patih Pralemba kepada Raden Samba:
“Wahai manusia, amatlah bagus kau punya rupa
Tetapi sayang akan mati olehku Patih Pralemba!”

(22)
“Hm, apa kau sudah tak ingat wajahku Pralemba,
Akulah Raden Samba putera Prabu Betara Kresna
Yang akan membunuhmu bersama Patih Angkasa
Dan kali ini kau tak akan hidup ‘tuk kedua kalinya
Sebab panah saktiku anugerah dari Wisnu Dewa!

(23)
Kedatanganku kemari atas titahlah  Betara Kresna
Untuk bunuhlah kalian berdua beserta bala tentara
Kalian yang telah binasakan para begawan pertapa
Yang ada di gunung Jingga dan gunung Angkasa!”
Mendengar perkataan Raden Samba Prawirajaya

(24)
 Amat marahlah Patih Pralemba dan Patih Angkasa
Patih Pralemba pun mengeluarka senjata trisulanya
Yang terbuat dari besi berani kemudian ditikamnya
Raden Samba tapi bisa ditangkis dengan perisainya
Patih Pralemba pun semakin penasaran dibuatnya

(25)
Maka ia pun mengeluarkan senjata gada saktinya
Raden Samba tak mau ambil resiko, maka segera
Ambil senjata cakranya lalu dilontar ke arah gada
Patih Pralemba, maka gadanya patahlah seketika
Demi melihat gadanya itu patah, Patih Pralemba

(26)
Melompat  ke arah sebatang pohon kayu raksasa
Mencabutnya lalu dilempar ke arah Raden Samba
Raden Samba panahlah pohon kayu yang berada
Di lengan Patih Pralemba, maka lepaslah seketika
Batang kayu terlempar dari tangan Patih Pralemba

(27)
Patih pralemba keluarkan senjata Samoga-moga
Lalu terbang ke udara tak bisa dilihat Raden Samba
Maka Raden Samba merapal mantra aji Elang mata
Seketika itu juga tampaklah oleh mata Raden Samba
Sang Patih Pralemba sembunyi di balik awan Jingga
Lalu turun secepat kilat hendak tikam Raden Samba

(28)
Dengan senajata saktinya bernama Samoga-noga
Maka senjata sakti Samoga-moga Patih Pralemba
Kemudian dipanah oleh Raden Samba Prawirajaya
Dengan panah sakti pula bernama Alam Merdana
Hingga patah lalu tembus ke dada Patih Pralemba

(29)
Maka tewaslah Patih Pralemba pada saat itu juga
Sementara Patih angkasa makin keras tandangnya
Demi Melihat rekannya Patih Pralemba itu perlaya
Maka Patih Angkasa pun menjadi  teramat murka
Bersama pasukannya mengamuk membabi buta

(30)
Amuk Patih Angkasa bersama pasukan denawanya
Telah membuat pasukan Raden Samba Prawirajaya
Banyaklah yang tewas, maka Raden Samba segera
Panah Patih Angkasa dengan panah Alam Merdana
Tepat mengenai lehernya hingga tewaslah seketika

(31)
Setelah melihat kedua patihnya ‘lah gugur perlaya
Maka pasukan Patih Pralemba dan Patih Angkasa
Lari cerai-berai entah kemana selamatkan dirinya
Ada yang masuk ke dalam hutan rimba belantara
Ada pula terbang kembali ke negerinya Trajutrisna

(32)
Setelah demikian maka Raden Samba Prawirajaya
Pun bermohon kepada segenap Begawan Pertapa
Untuk kembalilah ke keretanya dimana di sana
Sedang menanti Dewi Tunjung Sari kekasihnya
 Ia ditemani oleh Sang Begawan Karanda Dewa

(33)
Setelah sampai pada keretanya,  Raden Samba
Langsung bopong sang kekasih belahan jiwanya
Diciumnyalah Dewi Tunjung Sari seraya berkata:
“Mengapakah wajah dinda jadi bermuram durja
Dan nampaknya teramat cemaslah begitu rupa?”

(35)
Maka Dewi Tunjung Sari  berkata: “Iya Kakannda,
Betapa adinda itu mencemaskan kakanda, karena
Adinda melihat gigi caling dari raksasa itu laksana
Taring gajah saja, dan betapa takut dinda apabila
Kakanda itu kalah dimangsa oleh Patih Pralemba

(36)
Maka Raden Samba ciumlah kembali kekasihnya
Dewi Tunjung Sari dengan teramatlah mesranya
Seraya berkata: “Duh... dinda, betapa bahagianya
Hati kanda karena dinda amat kasih pada kanda!”
Setelah berkatalah demikian, maka Raden Samba

(37)
Segera perintahkan pada Begawan Karanda Dewa
Patih Suranata, dan Patih Surama agar secepatnya
Kerahkan menteri, hulubalang dan prajurit semua
Mulai melangkah berjalan sambil menabuh segala
Bunyi-bunyian genderang dan bende tanda suka

(38)
Sementara para pertapa beri hormat Raden Samba
Dan mereka memuj-muji Raden Samba oleh karena
Selamatkanlah mereka dari tindakan biadab raksasa
Yang telah menindas dan binasakanlah para pertapa
Setelah itu mereka kembali ke tempat pertapaannya

   
Kamis , 29 Oktober 2018
Pukul : 08:03 WIB
REFERENSI :
Balai Pustaka, “Sang Boma”
Penerbit : Balai Putaka 1978

Rabu, 24 Oktober 2018

Ki Slamet Priyadi 42 : “SANG BOMANTARA” Pupuh 17

Blog Ki Slamet : "Sajak Puisi Slamet Priyadi"
Kamis, 25 Oktober 2018 - 03:35 WIB

"Bomantara"
Bomantara
Ki Slamet Priyadi 42 :
“SANG  BOMANTARA”
Pupuh XVII ( 1-26 )

17.  Asmara Raden Samba, Suranata, dan Surama

(1)
Kononlah, kedua Patih Suranata dan Patih Surama
Dapat Dewi Tunjung Biru dan Dewi Tunjung Maya
Maka Dewi Tunjung Biru tanya pda Patih Suranata:
“Siapakah kau ini yang nampaklah gagah perkasa?”
Jawablah Patih Suranata: “Hambalah yang Bernama

(2)
Patih Suranata pengawal hulubalang Raden Samba
Dan hamba diperintah oleh ayahnya, Betara Kresna
Untuk tumpaslah gerombolan para raksasa denawa
Yang ‘lah banyak binasakan para begawan pertapa
Yang ada di gunung Jingga dan gunung Angkasa.”

(3)
Tukas Patih Suranata seraya memperbaiki mahkota
di kepalanya, kemudian melanjutkan kata-katanya:
“Semua ini atas titah Betara Guru,  Sang Jagadnata
Kepada Raden Samba ‘tuk menumpas para raksasa
Serta kedua patihnya,Pralemba dan Wira Angkasa!”

(4)
Sementara Surama yang dapat Dewi Tunjung Maya
Sedang berasyik-masyuk pula di dalam taman tirta
Maka ketiganya pun bermesraanlah bersama-sama
Di dalam taman tirta di saat menjelang malam tiba
Hingga mereka lupa karena terbuai nikmatnya cinta

(5)
Para menteri, hulubalang yang menantikan mereka
Salinglah bertanya kepada Begawan Karanda Dewa
Sebab hingga tengah malam mereka belumlah tiba:
“Begawan, sungguhlah kami khawatir pada mereka,
Takut ada kejadian apa-apa pada mereka bertiga.”

(6)
Maka kata Begawan Karanda seraya elus jenggotnya:
“jika demikian kalian tunggu di sini, aku akan ke sana
Untuk melihatnya!” Segera  Begawan Karanda Dewa
Masuklah ke dalam taman tirta untuk temui mereka
 Tetapi Raden Samba Prawira, Suranata, dan  Surama

(7)
Tidak berada di dalam taman itu, heranlah Karanda:
“Lo, kemanakah perginya mereka itu, Raden Samba,
Patih Suranata, dan Patih Surama?” sebab itu maka,
Begawan Karanda Dewa pun diam sejenak lalu dia
Berjalan kembali pada balai gading tempat semula

(8)
Raden Samba Prawira duduk beristrirahat di sana
Betapa Begawan Karanda Dewa terpukau jadinya
Melihat hasil seni ukiran yang indah-indah di sana
Di  balai gading yang tampaklah di  sekelilingnya
Ditumbuhi pohon-pohon yang sedang berbunga

(9)
Dilengkapi tempat tidur bertiraikan kelambunya
Begawan Karanda Dewa pun jadi bertanya-tanya:
“Siapa yang miliki balai ini, apa dia Pertapa pula?
Hm, akan tetapi jika dilihat dari cara-cara menata
Pastilah ini hasil tata laku seorang bidadarilah jua

(10)
Ya, jangan-jangan Raden Samba Prawira, Surama,
Dan Suranata itu,  mereka semua  berada  di sana
Sebab aku lihat ada tiga bilik balai peraduannya.”
Maka Karanda Dewa pun keluar dari Taman Tirta
Secara perlahan agar tak diketahui Raden Samba

(11)
Ketika Begawan Karanda melangkahkan kakinya,
Dia mendengar suara Raden Samba Prawirajaya
Dan pula Suara Patih Suranata pun Patih Surama
Dari dalam bilik balai peraduan yang dilewatinya
Begawan Karanda cepat tinggalkan Taman Tirta

(12)
Dia jadi tersenyum ketika tadi mendengar suara
Raden Samba, Patih Suranata dan Patih Surama
Ketika merayu masing-masing dari bidadarinya
Setelah sampai, maka dia menghimpun segera
Segala menteri dan hulubalang para prajuritnya

(13)
Agar semuanya  segera kumpul di Taman Tirta
Maka terdengarlah suara berisik sorak mereka
Oleh Raden Samba Prawirajaya, Patih Suranata,
Dan Patih Surama yang sedang bercengkerama
Prajurit tersenyum, tahu tuannya dimabuk cinta

(14)
Sadar dengan apa yang terjadi, seketika itu juga
Terasa emas tubuh Dewi Tunjung sari dibuatnya
Nampaklah pula jadi pucat pasi paras wajahnya
Hal itu membuat Raden Samba jadi merasa iba
Lalu ia pun menyuruhnya mandi seraya berkata:

(15)
“Dinda Dewi Tunjung Sari belahan sukma kanda
Sebaiknya segeralah dinda mandi di Kolam Tirta
Dan kanda pun akan mengantar dinda ke sana!”
Maka Dewi Tunjung Sari dipapah Raden Samba
Dari atas balai bilik peraduannya ke Kolam Tirta

(16)
Sementara itu Begawan Karanda Dewa beserta
Segenap hulubalang jadi tercengang dibuatnya
Saat melihat tuannya Raden Samba Prawirajaya
Memapah seorang Bidadari yang teramat jelita
Setelah selesai mandi Raden Samba Prawirajaya

(17)
Dan Dewi Tunjung Sari kembalilah ke Balai Tirta
Demikian pula Patih Suranata dan Patih Surama
Mereka berdua pergi menuju ke Balai Tirta pula
Bersama dengan kedua Bidadari pujaan hatinya
Dia Dewi Tunjung Biru dan Dewi Tunjung Maya

(18)
Dewi Tunjung Sari pun segera sambut mereka
Lalu duduk di atas balai gading yang tersedia
Betapa suka-citanya Raden Samba Prawirajaya
Melihat mereka bertiga bercanda bersuka cita
Bercengkerama menceritakan pengalamannya

(19)
Ketika itu datanglah Begawan Karanda Dewa
Beserta segala menteri hulubalang semuanya
Menghadap pada Raden Samaba Prawirajaya
Maka Berkata Sang Begawan Karanda Dewa:
“Kami ucapkan selamat untuk tuanlah bertiga

(20)
Karena telah mendapatkanlah emas permata
Yang amat sangat indah tiadalah bandingnya
Di Taman Tirta ini!” Sementara Raden Samba
Hanya tersenyum begitu pun kedua patihnya
Sang Patih Suranata dan Sang Patih Surama

(21)
Maka,  dengan senyum dikulum Raden Samba
Berkata: “Benar kata paman Begawan Karanda,
Tetapi sekarang ini juga paman Karanda Dewa
Segeralah himpun menteri, hulubalang semua
Bersiap untuk kembali dahulu ke negeri kita!”

(22)
“Siap Raden, segala menteri hulubalang semua
Mereka Sudah hamba kumpulkan tinggal hanya
 Menunggu perintah darilah Raden Samba saja!”
Demikian jawaban dari Begawan Karanda Dewa
Maka berkatalah pula Raden Samba Prawirajaya:

(23)
“Jika demikian, perintahkan segala prajurit kita
Untuk segera berjalan, siapkan pula keretanya
Beserta sekalian gajah dan kuda penariknya!”
Maka Sang Begawan Karanda Dewa berkata:
“Siap, segala titah patik junjung di atas kepala!”

(24)
Maka para menteri, hulubalang pun semuanya
Mulailah bergerak berjalan dengan keretanya
Raden Samba naik kereta dengan bidadarinya
Dewi Tunjung Sari, begitu pula Patih Suranata
Naik kereta berada di sisi kanan Raden Samba

(25)
Sedang Patih Surama di sisi kiri Raden Samba
Nampak mesra bersama Dewi Tunjung Maya
Sedangkan Begawan Karanda Dewa, beserta
Segala menteri, dan para hulubalang berada
Di posisi belakang Raden Samba Prawirajaya

(26)
Mereka pun bergerak menuju arah Sang Surya
Mulai pancarkan sinarnya terangi mayapada 
Maka teramatlah gegap gempitalah suaranya
Apalagi bunyi suara pasukan gajah dan kuda
Amat bergemuruh dan memekakkan telinga


Minggu, 25 Oktober 2018
Pukul : 03:46 WIB
REFERENSI :
Balai Pustaka, “Sang Boma”
Penerbit : Balai Putaka 1978