Kamis, 13 September 2018

Ki Slamet Priyadi 42: "SANG BOMANTARA" Pupuh 9

Blog Slamet Priyadi
SajakPuisi Ki Slamet 42
Jumat, 14 September 2018-05:58 WIB

Image "Ki Slamet Priyadi 42" (Foto:SP)
Ki Slamet Priyadi

Ki Slamet Priyadi 42 :
“SANG  BOMANTARA”
Pupuh IX ( 1-35 )

9.                Maharaja Bomantara Menyerang Suralaya

(1)
Betapa gagah Raja Boma duduk di atas Wilmana,
Diiringlah oleh para patih, beserta tentara raksasa
Pasukan yang lewatlah darat naik gajah dan kuda
Pasukan yang berjalan kaki gemuruhlah suaranya
Mereka menyusuri Mahameru menuju ke Suralaya

(2)
Konon cerita,  penyerangan Maharaja Bomantara
Ke Suralaya  sudahlah diketahui para dewa-dewa,
Maka,  berundinglah Batara Indra, Batara Brahma
Dan Batara Maha Wisnu.  Berkatalah Batara Indra:
“Tuan-tuan,  apa tindakan kita ‘tuk hadapi Boma?

(3)
Sebentarlah lagi pasukannya akan tiba di Suralaya!
Adapun tujuan Raja Boma itu seranglah Indra loka,
Ingin meminta Dewi Nila Utama dan Dewi Supraba
untuk turuti keinginan Puteri Jantaka raja Mandura
bernama Dewi Januati yang sudah ditaklukkannya.”

(4)
Maka berkata Batara Brahma kepada Batara Indra :
“Tuan Batara Indra, sesunguhnyalah raja Bomantara
Putra Batara Wisnu, Batara Brahmalah pengasuhnya,
Biar nanti saya sendiri yang menghadapi raja Boma,
Dia miliki Cangkok Wijayakusuma dan Aji Pancasona

(5)
Setelah mendengar perkataan Batara Wisnu dewa
Lalu Batara Indra menghimpun segenap indra-indra
Dan segala dewa-dewa serta cendera-cendera serta
Mambang untuk siap siaga dengan segenap senjata
Sedangkan Batara Indra naik ke atas gajah angkasa

(6)
Gajah angkasa Batara Indra itu memiliki tujuh warna
Hitam, putih, bulu-bulunya bagai kepala ular berbisa
Berwarna merah menyala, kakinya laksana kaki singa
Berwarna kuning, biru, hijau, dan berwarnalah jingga
Sais kereta gajah  dikendalikan oleh  seorang Indera

(7)
Di tangannya gengam besi  yang ujungnya menyala,
Batara Brahma naiklah kereta dengan panah saktinya
Sedang Batara Bayu berbekal panah sakti naik singa
Batara Mahadewa naik Wilmana bersenjatakan trisula
Batara Baruna pun naiklah gajah bersenjatakan gada

(8)
Alkisah maka segalalah dewa-dewa dan indra-indra
Mereka pun terbang menghadang Raja Bomantara
Sementara  pasukan darat diawali oleh Haranggara
Berkereta bertahta manikam disusul oleh Jayasena
Naik kereta yang bertahtakan permata pancawarna

(9)
Di belakangnya Jayasantika putra sang Dewa Indra
Ia naik garuda bayu yang bersenjatakan bayu cakra
Yang berkilau warnanya bagaikan api pancadahana
Maka  segala pasukan dewa-dewa dan indra-indra
Terbang ke angkasa menghadang pasukan raksasa

(10)
Maka kedua pasukan bertempurlah di medan laga
Bunyi beradunya senjata begitulah gegap gempita
Pasukan Raja Bomantara,  yang terdiri dari raksasa
Nampak terdesak banyak yang mati dan luka-luka
Mereka berlarilah kalang-kabut tak tentu arahnya

(11)
Hal tersebut dilihat Patih Angkasa, Patih Pralemba
Dan Patih Jarasanda, mereka pun jadi amat murka
Lalu serempak mereka pun naik ke  atas gajahnya
Mereka mengamuk membabi-buta di medan laga
Menyeranglah tentara dewa-dewa dan indra-indra

(12)
Pasukan dewa-dewa dan indra-indra kecut hatinya
Mereka jadi cerai-berai lari menyelamatkan dirinya
Demi melihat keadaan semacam ini,  Batara Indera
Batara Brahma,  Batara Baruna,  Batara  Mahadewa,
Dibantu Batara Bayu dan Batara Barunapun segera

(13)
Memanah segala pasukan raksasa Maharaja Boma
Dengan  panah-panah nan sakti  sehingga mereka
Tiada tahan akan serangan panah para dewa-dewa
Sebagian yang masih hidup lari selamatkan dirinya
Sembunyi berlindunglah  di  belakang  Raja Boma

(14)
Demi melihat segala prajurit pasukan raksasa Boma
Banyak yang tewas meregang nyawa di medan laga
Maka Raja Bomantara pun segeralah tampil ke muka
Keluarkan panah saktinya ‘tuk mengusir Batara Indra
Hal tersebut dilihatlah oleh para dewa, maka segera

(15)
Batara Indra, Batara Brahma, Batara Bayu dan Baruna
Mereka pun serempak memanah  Sri Maharaja Boma
Tapi. tiada satupun panah-panah itu bisa melukainya
Maka Batara Indra pun cepatlah kendalikan gajahnya
Untuk berhadapan langsung dengan Raja Bomantara

(16)
Lalu panah saktinya diarahkanlah ke dada Raja Boma
Secepat kilat panah sakti melesat ke arah dada Boma
Akan tetapi tiada satupun yang mampu melukainya
Justru, panah Batara Indra yang patah menjadi tiga
Sebab itulah Raja Bomantara pun keluarkan senjata
(17)
Panah pusaka sakti yang bernama, Sagarmuga
Yang bentuk warnanya itu sepertilah ular naga
Panah lalu dilepas melesat ke arah Batara Indra
Panah Sagarmuga membelit tubuh Batara Indra
Dari kepala hingga sampailah ke kedua kakinya

(18)
Seketika itu, Bata Indra jatuhlah dari atas gajahnya
Melihat hal itu, Batara Brahma betapa amat murka
Segera dia beralih rupa menjadi api menyala-nyala
Yang besar dan tingginya sebesar gunung layaknya
Lidah api itu mejilat-jilat berkobaran ke arah Boma

(19)
Tetapi api itu pun tak juga bisa bakar tubuh Boma
Raja Boma pun baliklah menyerang Batara Brahma
Dengan panah saktinya dipanahlah Batara Brahma
dari atas wilmananya tepat mengenai dada Brahma
lalu jatuhlah ke tanah Batara Brahmapun gaib sirna

(20)
Batara Mahadewa melihat gaibnya Batara Brahma,
Maka dia pun datang menghadapi Raja Bomantara
Ia hendaklah menikam dengan senjata keris pusaka
Namun segera Maharaja Boma tangkap Mahadewa
Kemudian dihempasnya ke bumi Batara Mahadewa

(21)
Batara Mahadewa jatuh ke bumi dari atas wailmana
Maka dia pun bangun lalu gaiblah pula ke Suralaya
Sementara Batara Baruna yang melihat dewa-dewa
Dapat dikalahkan Maharaja Boma heranlah jadinya
Ia berkata: “Baiknya aku gaib saja seperti mereka!”

(22)
Batara Bayu yang lihat akan gaibnya Batara Baruna,
Jadi demikian mendongkol dan marah pula hatinya
Ia himpun angin agar menyatu ke dalam tubuhnya
Lalu dia hembuskan angin itu ke tubuh Bomantara
Berupa topan yang teramatlah keras hembusannya

(23)
Hadapi topan yang begitu dahsyat, Boma merasa
Pusing-pusinglah kepalanya, Boma jadilah murka
Segera iapun mengeluarkan senjata gada saktinya
Lalu dipukulkan ke tubuh Batara Bayu, sementara
Batara Bayu pun, lalu ambil pula senjata gadanya

(24)
Gada itu lalu dipukulkan ke arah Maharaja Boma
Namun Raja Boma dengan cekatan tangkap gada
Lalu tangan Batara Bayu dicekal dengan cepatnya
Pinggangnya dicengkeram begitulah pula halnya
Raja Boma, saling cekal-mencengkal begitu rupa.

(25)
Suatu ketika Batara Bayu lengah, Maharaja Boma
Menangkap tubuh Batara bayu lalu dibantingnya
Ke tanah hingga Batara Bayu lemah tak berdaya
Merasa tak kuat maka Batara Bayu pun gaib pula
Melihat ini,  Batara Karia berpikir dalam hatinya :

(26)
“Baiknya aku lepas isteri dan hartaku semuanya!”
Setelah demikian, Batara Karia pun gaiblah pula
Melihat segenap dewa-dewa, dan indera indera
Tiada lagi yang berani tantang Maharaja Boma,
Raja Boma pun turunlah  dari atas Wilmananya

(27)
Lalu dia menemui Batara Indera yang tubuhnya
Masih terikat terlilit panah saktinya Sagarmuga
Bomantara dekati Batara Indera seraya berkata:
“Batara Indera, saat ini aku inginkan Nila Utama
Dan Dewi Supraba, keduanya akan aku bawa!”

(28)
Batara Indra menjawab: ”Baik Maharaja Boma!”
Bomantara pun mengambil anak panah Sagara
Yang masih melilit seluruh tubuh Batara Indera
Setelah panah itu terlepas, maka Batara Indera,
Panggillah Bidari Nila Utama dan Dewi Supraba

(29)
Sejenak keduanya pun datang ke Batara Indera
Batara Indera pun berkata : “Wahai Nila Utama,
Dan Dewi Supraba, perlu kalian ketahui berdua
Bahwasannya Sri Paduka Maharaja Bomantara,
Inginkan kalian jadi dayang di negeri Trajutrisna

(30)
Menjadi dayang asuh Dewi Januati putri Jantaka
Yang diboyong Sri Paduka Maharaja Bomantara
Dewi Januati yang menginginkan kalian berdua,
Untuk menjadilah dayang emban pengasuhnya,
Oleh karena itu Raja Boma menyerang Suralaya!”

(31)
Sembah bidadari Nila Utama dan Dewi Supraba
Seraya berkata:“Baik tuan, kami berdua bersedia
Jadi emban Dewi Januati, di Negeri Trajutrisna!”
Batara Indera pun serahkan bidadari Nila Utama
Dan Bidadari Dewi Supraba kepada Raja Boma.

(32)
Selain itu diberi sepuluh dayang pengiringnya
Tuk membantu Nila Utama dan Dewi Supraba
Setelah Maharaja Boma peroleh Dewi Supraba
Dan Nila Utama, maka Sri Maharaja Bomantara
Serta pasukannya kembali ke negeri Trajutrisna

(33)
Setiba di negeri Trajutrisna Bidadari Nila Utama,
Bidadari Dewi Supraba besertalah pengiringnya
Yang berjumlah sepuluh masuk ke dalam istana
Mereka  bersua dengan Dewi Januati dan Puspa
Yang tiada lain dia adalah seorang bidadari juga

(34)
Berkatalah  Dewi Puspawati kepada Nila Utama,
Dan Dewi Supraba:“Duh kanda bidadari berdua,
Tiadalah lain yang dinginkan Dewi Januati hanya
Kanda Bidadari Nila Utama, dan Dewi Supraba.”
Maka ditatapnya Dewi Januati dengan seksama.

(35)
Diketahuilah oleh Nila Utama dan Dewi Supraba,
Perihal Dewi Darma Dewi dan Dewa Darma Dewa
Mereka pun senanglah jadilah inang pengasuhnya
Dewi Januati di istana Raja Bomantara, Trajutrisna
Dewi Januati acap bercerita pada mereka berdua

Kp. Pangarakan, Bogor
Minggu, 09 September 2018
Pukul : 22:23 WIB

REFERENSI :
Balai Pustaka, “Sang Boma”
Penerbit : Balai Putaka 1978
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar