Kamis, 27 September 2018

Ki Slamet 42 "SANG BOMANTARA" Pupuh XI

Blog SlametPriyadi
"Sajak Puisi Ki Slamet 42" 
Jumat, 28 September 2018 - 07:47 WIB



Ki Slamet Priyadi 42 :
“SANG  BOMANTARA”
Pupuh X1 ( 1-33 )

11. Raden Samba Perangi Raksasa Angkara

(1)
Alkisah Raden samba berada di dusun Indra Pura
Bersama para hulubalang, dan Begawan Karanda
Adapun Dusun Indra Pura  masih di bawah kuasa
Kerajaan Dwarawati, rajanya bernama  Sri Kresna 
Yang tak lain ayah dari Raden Samba Prawirajaya

(2)
Tanah di dusun Indra pura itu begitulah suburnya
Dengan alam perbukitan berhias hutan belantara
Berkelok jalan setapak betapa indah dan eloknya   
Suatu ketika,  Raden Samba Prawirajaya bersama
Segenap hulubalang dan Begawan Karanda Dewa

(3)
Mendaki bukit yang terlalu bersemaklah jalannya
Hingga hulubalang kesulitan langkahkan kakinya
Sementara hari pun sudah mulailah gelap-gulita
Maka Raden Samba pun perintahkan prajuritnya
Untuk beristirahat dan nyalakan pematik cahaya

(4)
Di keesokan hari saat Sang Surya tebar sinarnya
Raden Samba ke sungai bersama Karanda Dewa
Di tegah jalan dia melihat ada tiga orang wanita
Bawa hidangan nasi, amat cantik rupa parasnya
Maka ia bertanya pada Begawan Karanda Dewa:

(5)
“Paman Begawan, perempuan manakah mereka?”
“Tiada lain mereka itu adalah perempuan pertapa
Di gunung Jingga Biru antar makan ‘tuk gurunya.” 
Jawab Begawan Karanda Dewa seperlunya, Samba
Pun bertanya lagi pada Begawan Karanda Dewa :

(6)
“Paman, ketiga wanita itu memang benar pertapa
Atau mereka adalah isteri-isteri dari para pertapa,
Yang berada di atas gunung Jingga Biru ini saja?”
Ketika Begawan mau jawab tanya, Raden Samba
Menyelak : “Tidak usah dijawab paman Karanda!”

(7)
“Kenapa dan ada apa, Samba?” Begawan Karanda
Jadi heran dibuatnya dengan sikap Raden Samba
Tiba-tiba saja ia melihat Raden Samba Prawirajaya
Lompat ke arah batu yang diinjak Karanda Dewa
Sang Begawan melihat di jemari tangan Samba,

(8)
Tergenggam seekor kobra besar hitam warnanya
Yang tadi nyaris mematuk kaki Begawan Karanda
Betapa terkejutnya Sang Begawan Karanda Dewa
Dilihatnya Raden Samba berbicara dengan kobra:
“Hai kobra, pergi jangan ganggu paman Karanda!”

(9)
Mendengar perintah Raden Samba, sang kobra
Pun pergilah ke dalam semak serayalah berkata:
“Baik Raden, sungguh patik tiada mengira pabila
Yang lewat adalah Raden dan Begawan Karanda,
Salam hormat patik pada paduka Betara Krisna!”

(10)
“Baiklah Kobra, salam akan aku sampaikan pada
Ayahanda setelah saya selesaikan tugas negara
Membasmi Patih Pralemba, Angkasa dan segala
Raksasa yang telah membunuh segenap pertapa
Di gunung Jingga Biru dan di Gunung Angkasa.”

(11)
Adapun Sang Begawan Karanda Dewa ada rasa
Bangga setelah melihatlah dengan mata kepala  
Kecekatan Raden Samba yang begitu cepatnya
Menangkap seekor ular kobra jelmaanlah dewa
Maka Begawan Karanda berkata dalam hatinya:

(12)
“Tepatlah jika Sri Paduka Maharaja Batara Krisna
Menugaskan ananda Raden Samba Prawirajaya,
Menumpas Patih Pralemba dan pasukan raksasa
Dan tentulah Baginda Sri Maharaja Betara Krisna
Telah memberi anugerah kesaktian kepadanya.”

(13)
“Hm, jikalah demikian aku tak perlu lagi merasa
Khawatir akanlah keselamatan diri Raden Samba
Karena  dengan ilmu kesaktian yang dimilikinya
Cukuplah untuk menumpas sang angkara murka
Di atas gunung Jingga Biru dan gunung Angkasa
(14)
Begawan Karanda Dewa bertanya pada Samba:
“Raden, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan saja
Sebab sebentar lagi hari akan menjelang senja!”
“Sebaiknya jangan paman, titahkan pasukan kita
Agar beristirahat makan dan minum secukupnya

(15)
Kita akan lanjutkan perjalanan jelang fajar tiba
Jika kita seranglah mereka di malam hari maka,
Pasukan kita akan banyaklah yang mati binasa
karena mereka raksasa yang kasar tandangnya
lebih malam hari makin buas dan liar lakunya!”

(16)
“Baik Raden!” Makin kagumlah Begawan Karanda
Pada kemampuan Samba di dalam strategi yudha
Maka tiada keraguan lagi Begawan Karanda Dewa
Dia Segera berkata kepada Suranata dan Surama
Agar semua prajurit beristirahatlah di dalam tenda

(17)
Pendek cerita, sang Surya mulai tebarkan sinarnya
Maka Suranata, dan Surama berilah aba-aba pada
Semua prajurit agar persiapkan segala sesuatunya:
“Wahai prajurit Dwarawati yang gagah nan perkasa
Ataslah perintah Pangeran Raden Samba Prawijaya

(18)
Segeralah berkemas jangan sampai ada yang lupa,
Persiapkan  senjata kalian, kita berangkat segera!”
Maka segenap prajurit Dwarawati itu pun bergegas
Masing-masing mempersiapkan segala senjatanya
Lalu menaiki kereta perang menuju medan yudha

(19)
Setelah demikianlah itu, Raden Samba Prawirajaya
Bergerak langkahkan kaki yang diiring oleh segala
Hulubalang yang dipimpin oleh Suranata, Surama
Menuju ke  gunung Jingga Biru, gunung Angkasa   
Sesampai di dusun Ajum Giri,  hari mulailah senja

(20)
Maka Raden Samba pun hentikanlah pasukannya
Hal itu buatlah Begawan Karanda Dewa, Suranata
Dan Surama heran atas keputusan Raden Samba,
Merekapun  hampiri Raden Samba lalu bertanya:
“Ada apakah hentikan pasukan, Raden Samba?”

(21)
“Oya, Paman! Apakah nama dusun yang sama
sekali tiadalah penghuninya ini? Padahal saya
lihat dusun ini  amat subur dan lingkungannya
pun banyaklah ditumbuhi pepohonan hingga
banyak burung datang hinggap di rantingnya.”

(22)
Maka menjawablah Begawan Karanda Dewa,
Karena dia yang tahulah persis penyebabnya,
Kenapa Dusun Ajum Giri tiada penghuninya:
“Ya Raden Samba, adapun sebabnya karena
Selalu diganggu oleh sekelompoklah raksasa

(23)
Dari negeri Trajutrisna yang rajanya bernama
 Raja Bomantara yang ayahanda Betara Krisna
Tugaskan kepada ananda ‘tuk menumpasnya!”
Menjawablah Begawan Karanda Dewa seraya
Arahkanlah  telunjuknya ke Negeri Trajutrisna.

(24)
“Jika begitu, suruhlah paman Suranata, Surama,
Agar segala pasukan dan hulubalang semuanya
Berehat di dusun ini makan minum seperlunya!”
Suranata dan Surama pun titahkan prajuritnya
Beristirahat seraya berjaga dan tetap waspada

(25)
Malam pun tibalah, dusun Giri diselimuti gulita
Suara sorak tentara, ringkikkan gajah dan kuda
Didengarlah Patih Pralemba dan Patih Angkasa
Dan segala raksasa,  maka mereka pun berkata:
“Hai kawan-kawan, aku mencium bau manusia,

(26)
Beberapa raksasa hendus-henduskan hidungnya
Seraya berkata: “Iya, iya, betul, ini bau manusia!”
Salah seorang raksasa berkata : “Barangkali saja,
Para pemburu yang tersesat di hutan belantara?”
Maka beberapa raksasa cari sumber bau manusia
Yang berasal darilah pasukan Samba Prawirajaya
Setelah menemukan mereka pun kembali segera

(27)
Kepada teman-temannya, mereka pun berkata :
“Hai teman-teman, ternyata aroma bau manusia
Berasal dari pasukan Raden Samba Prawirajaya
Yang sedang rehat di Dusun Giri, Indera Pura!”
Salah seorang Raksasa  berkata pada rekannya:

(28)
“Mereka sedang makan, minum di tenda-tenda
Sambil menari-nari seperti sedanglah berpesta
Mari teman-teman kita pun akan pesta di sana
Kita makan saja mereka, tentu sedap rasanya!”
“Ya, itu benar!” berkata salah seorang raksasa

Sedangkan Patih Pralemba, dan Patih Angkasa
Yang mendengar rencana itu, segera berkata :
“Prajurit, aku Patih Pralemba,dan Patih Angkasa
Mencegah kalian untuk bertindaklah semaunya
Liar, brutal serta tanpa berdasarkanlah rencana!

(29)
Kalian tak bolehlah gegabah karena semuanya
Mereka itu, pasukan Raden Samba Prawirajaya
Bukan sekumpulan para begawan sebagaimana
Yang telah kita mangsa di atas gunung Jingga,
Jika kalian masih ingin mencoba melanggarnya,

(30)
Maka atas nama Sri Paduka Maharaja Bomantara
Akan kuhukum kalian dengan seberat-beratnya!”
Demikian kata Patih Pralemba dan Patih Angkasa.
“Siap, segala titah patik junjung di atas kepala.”
Jawab prajurit raksasa seraya rundukkan kepala

(31)
Selanjutnya Patih Pralemba dan Patih Angkasa
Pun berkatalah: “Hai Kalian Prajurit Trajutrisna,
Nan gagah perkasa, dengar titah kami berdua,
Patih Pralemba dan Patih Angkasa, kita semua
Kan serang pasukan Raden Samba Prawirajaya

(32)
Tepat dini hari saat sang purnama sepenggala
Pasukan darat ikut bersamaku, Patih Pralemba
Sedang pasukan udara bersama Patih Angkasa
Faham!” demikianlah pejelasan Patih Pralemba
Siaap...patih!” jawab serempak pasukan raksasa

(33)
“Baik, sekarang kalian istrirahat, janganlah lupa
Siapkan dan periksalah senjata kalian semuanya
Lalu makan, minum, dan tidur seperlunya saja!”
Demikianlah pesan-pesan darilah Patih Angkasa
Dan Patih Pralemba kepada semua prajuritnya.


Jumat,, 28 September 2018
Pukul : 07:58 WIB
REFERENSI :
Balai Pustaka, “Sang Boma”
Penerbit : Balai Putaka 1978
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar