Jumat, 20 Februari 2015

"TIGA EKSPRESI" By Slamet Priyadi

Slamet Priyadi
NEGARAKU, TETAP JAYALAH SELAMANYA!
Karya :  Slamet Priyadi

Awan-awan mendung layang berarak di puncak gunung
Bersayap bulu-bulu hitam kelabu tanda alam berkabung
Derai linangan air mata terus saja netes tak bisa diurung
Sebab orang-orang kecil masih keras menjerit  meraung
Dimangsa buasnya hukum rimba terbelenggu terkurung
Dalam neraka kemelaratan yang terasa semakin kadung

Sementara  hutan-hutan di bukitpun semakin kerontang
Dibalak oleh pemangsa galak ditebang pemangsa garang
Yang tiada henti-henti menyerbu serang malah bersarang
Di balik gumuk belukar, rimbunnya hutan berdaun uang
Bergelimang  kemewahan  bersuka ria bersenang-senang
Berenang di kolam air matanya orang-orang yang malang

Di mana-mana, di sana-sini, di sini-sana semua sama saja
Berlomba-lomba  rebutkan  kursi jabatan  utama penguasa
Demi raih  ambisi kedudukan  jual muka dan etika tak apa
Mendiskredit, ungkit-ungkit kesalahan adalah pilihan cara
Yang penuh  antrak-intrik,  taktis, strategis, etis  berlogika
Jadi ricuh, kacau-balau, awur-ngawur pun gegap-gempita

Demonstrasi  di  sana-sini  adalah  gelombangnya revolusi
Ada yang termotivasi murni, ada pula yang terkomersialisasi
Demonstrasi murni bertujuan suci perlu ditanggapi dan diapresiasi
Demonstrasi yang penuh komersialisasi bertujuan untuk makarisasi
Perlu ditumpas dan dibasmi sebab bikin negeri kacau tak damai lagi
Demi persatuan, kesatuan  bangsa dan Negara Republik Indonesia
Yang berdasar PANCASILA dan UUD 45 Berlambang  GARUDA
Selamatkan Bangsaku, selamatkan Negeriku, selamatkan Negaraku
Republik Indonesia Semoga Tetaplah Jaya Selamanya!

Kp. Pangarakan, Bogor
Minggu, 15 Februari 2015


ORANG GILA MISTERIUS
Karya: Slamet Priyadi

Orang tua gila itu bertubuh kurus dan kumal
Berambut gimbal panjang  dan menggumpal
Berwajah  muram, lusuh, kotor, dan berdaki
Gering berbaring  di emperan toko yang sepi
Depan SPN Lido jalan raya Ciawi-Sukabumi

Sejak  jam tiga pagi  hingga sampai sore hari
Orang tua gila itu tak jua mau beranjak pergi
Tak ada  seorangpun yang peduli dan empati
Pada nasib orang tua gila itu yang barang kali
Haus dan lapar sebab belum makan dari pagi

Sementara itu, di  jalan raya Ciawi-Sukabumi
Ratus kendaraan kampanye Pemilu legislasi
Membuat kemacetan semakin menjadi-jadi
Di tengah jubelnya  kendaraan  aku  menepi
Menghampiri orang tua gila itu lalu kusalami

Aku  menyapanya  namun dia diam membisu
Hanya  matanya  nanar  mendelik menatapku
Seperti  marah sebab merasa diusik diganggu
Beberapa saat kemudian ia duduk berpangku
Tangan bertopang dagu matanya menatapku

Tak peduli kemacetan suara bising kendaraan
Meski hati berdebar rasa bergidik gemetaran
Aku coba duduk di sisinya menyapa perlahan:
“Bapak, sedari pagi di sini, apa sudah makan?”
Dia cuma bisa gelengkan kepalanya perlahan

Ku ambil bungkus nasi rames dari dalam tasku
Aku tawarkan kepadanya, dia tetap membisu:
“Pak, ini ada nasi rames, silahkan dimakan, pak!”
Orang gila itu tetap geleng-gelengkan kepalanya
Kali ini dia menjawab dengan suara terbata-bata,

“nak, terimakasih atas perhatiannya pada bapak,
terus terang bapak sudah tak butuh makan, nak!”
Mendengar jawabannya, aku benar-benar heran:
“Oya,kalau begitu ini ada sedikit uang untuk bapak,
Mungkin ini akan lebih berguna untuk bapak kelak?”

Aku ambil selembar uang limapuluhribuan dari dompetku
Aku  sodorkan ke tangan kanannya yang kurasakan hanya
Bagai  sentuh  tulang, tak ada kulit yang membungkusnya
Tapi lagi-lagi aku heran tak habis pikir dan bertanya-tanya?
Orang tua itu menolak uang  pemberianku seraya berkata:

“Nak, sekali lagi terimakasih! Bapak sudah tak butuh apa-apa
Berikan uang itu untuk keluarga dan itu akan lebih berguna,
dan bapak doakan semoga kelak anak sekeluarga diberikan
rizqi yang banyak dari Tuhan Yang Maha Kuasa!”
“Jika demikian, saya mohon maaf, pak! mungkin
sikap saya tadi kurang sopan dan telah membuat
bapak tersinggung, rumah saya di dekat sini pak,
saya kembali dulu.”

Setelah berkata demikian aku pun segera berlalu
Tapi baru tiga langkah aku berjalan dari tempat itu
salah seorang yang melihatku bertanya kepadaku:
“Maaf, pak! tadi bapak seperti bicara sendirian
Dengan siapakah tadi bapak ngobrol bicara?”
Pertanyaan itu, membuatku jadi terheran-heran
Aku menengok ke belakang ke arah tempat bicara
menyapa dan bicara ngobrol dengan orang tua gila
dan,  sungguh di sana memang tak ada siapa-siapa

Aku tak habis pikir, terheran-heran, dan bertanya-tanya
Sebenarnya siapakah dia, dan kemanakah orang tua gila
yang hilang lenyap begitu saja dan pergi entah ke mana?
Dan orang yang bertanya kepadaku geleng-geleng kepala
Hening sejenak, barulah aku sadar, temukan jawabannya
Sepertinya hanya aku sendiri saja yang melihat orang gila itu

Hi hi hi hi, aku jadi tertawa sendiri merasa geli dalam hati
Menyadari kalau aku sendiri yang menjadi orang gilanya
Sebab duduk sendiri dan bicara sendiri di emperan toko
Di tempat keramaian  di  depan  sekolah kepolisian Lido
Itulah peristiwa unik pengalaman misteri yang aku alami
Dengan orang  gila misterius yang masih penuh misteri
Yang ada di emperan toko Indomaret SPN Lido,
jalan raya Ciawi-Sukabumi

Kp.Pangarakan, Bogor
Kamis, 19 Februari 2015

PERISTIWA SEPULANG KERJA
By Slamet Priyadi

Saat pulang kerja pada hari Senin, tanggal dua bulan Febuari
Tepat pada pukul lima tiga puluh lima sore jelang petang hari
persis di muka rumahku Kp Pangarakan daerah Bogor Ciawi
Saat Matahari Senja benamkan diri sembunyi di balik Pertiwi
Motor ojek langganan yang biasa aku tumpangi pun berhenti

Kuambil uang limaribuan dari saku baju kemeja seragam biru
Lalu  kuberikan pada ojek langganan yang tersipu malu-malu
Akupun masuklah  ke dalam rumah duduk di bangku bambu
Sambil reguk seteguk kopi hangat yang baru dibuatkan istriku
Aku lepas segala lelah segarkan kepenatan yang mengganggu

Baru sepuluh menit nikmati kopi hangat, aku dengar dan lihat
Di depan rumah orang-orang pada berteriak pating mencelat,
“Aya oray tanah, aya oray kobra, hayu paehan, hayu paehan!”
Aku segera lari lompat ke luar rumah turut ikutan melihat-lihat
Hand phoneku yang ada di lopa ikat pinggang aku pegang kuat

Dalam selokan yang berair keruh ular hitam kencang  menjalar
Terus dikejar dipukuli, dipentungi, digetoki dengan kayu galar
Ular kobra tanah besar tak berdaya sakit menggelepar-gelepar
Menoba bersembunyi di balik batu besar tubuhnya melingkar
Tetapi akhirnya ular itu terkapar kepalanya pecah kemepyar

Kp. Pangarakan, Bogor
Kamis, 05 Februari 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar