Minggu, 22 Februari 2015

"DUA BUAH PUISI KENANGAN" Karya Slamet Priyadi


AKU MASIH TAK BISA MELUPAKANMU
( Kenangan 1978 )

Lutfia, hingga kini aku masih tak bisa melupakanmu
Kenangan  itu,  yang  adalah segalanya tentang kita
Masih saja mengoyak mencengkeram  kuat di jiwa
Semakin terasa lara, pedih, merindu-rindu jadi satu
Aku tak bisa tepis rasa kasmaran kenangan cinta kita
Di saat-saat kita saling gamit tangan di sepanjang jalan
Menuju sekolah Pesantren Darunnajah di Kebayoran
Di  saat-saat  wajahmu  terkulai lembut manja merayu
Di  saat-saat  gerai  rambut  hitam dikerudung putihmu
MenYusup dadaku yang semakin gelorakan rasa rindu

Dan, mata sendu kita pun saling bertatapan
Tetes  bening air matamu merayap perlahan
Membasahi  pipimu  yang binar kemerahan
Basahi kerudung putihmu yang kemerlapan
Karena disinari cahaya mentari keperakan
Yang memancar begitu panas di atas kepala
Yang  sinarnya  menyengat menembus dada
Mengukir  kenangan  lama  tentang  cinta kita
Yang  sama  sekali  tak  bisa  aku  melupakannya
Lutfia, sungguh aku masih tak mampu dan tak bisa
Untuk melupakanmu hingga kini, sampai sekarang!

Pangarakan, Bogor

Senin, 29 Desember 2014 – 16:19 wib


KENANGAN CINTA YANG TERSISA
( Kenangan 1977 )
Ku kuak jua kenangan ini meski terasa sakit
Lewat baris rangkaian kata-kata puisi berbait
Disaat kita berjalan pelan  di tepi sisian parit
 Di Angkasa Puri malam hari saat bulan sabit
Dan, jemari tangan kita pun saling bergamit

Tak ada kata-kata bicara atau pun tegur sapa
Hanya tatapan mata dan hati kita yang bicara
Cerita tentang masa depan cinta dan cita-cita
Yang pupus kandas tak terwujud dalam nyata
Semua jadi bongkah-bongkah kenangan cinta

Sampai sekarang bayang-bayang kenangan itu
Masih saja selalu ganggu jiwaku di setiap waktu
Mengoyak-ngoyak terasa  di hati dan jantungku
Gemuruh  rintih di dadaku semakin terasa pedih
Sukmaku lara lirih perih cita-cita tak bisa terraih

Kehidupan itu memang seperti sketsa garis-garis
Berkelak-kelok, kadang senang terkadang miris
Kadang tertawa riang terkadang sedih menangis
Dan, semua itu adalah romantika rentang waktu
Satu perjalanan panjang yang terus akan berlalu


Utan Kayu Selatan,
21 Desember 2014/03:35 WIB
 

1 komentar:

  1. Sampai sekarang bayang-bayang kenangan itu
    Masih saja selalu ganggu jiwaku di setiap waktu
    Mengoyak-ngoyak terasa di hati dan jantungku
    Gemuruh rintih di dadaku semakin terasa pedih
    Sukmaku lara lirih perih cita-cita tak bisa terraih

    BalasHapus