Sabtu, 21 Februari 2015

IBU, MAAFKANLAH AKU! Karya Slamet Priyadi


Image "Ibuku" ( Lukisan: SP )
Ibuku
IBU, MAAFKANLAH AKU !
Karya: Slamet Priyadi

Saat aku masih bayi mungil di dalam keluarga sekandung
Dengan penuh kasih Ibu timang aku sambil bersenandung
Dendangkan tembang-tembang  nyanyian  indung-indung
Kidungan  irama  penjaga mantra kasih tudung pelindung
Ungkapan rasa cinta kasih  dan sayang yang menggunung
Kepada  ananda  putra  yang masih butuh tulung-pitulung

Di dalam bayang ketiadaberdayaan yang semakin kadung
Di dalam  ringis-tangis  yang terus saja jadikan merudung
Di  dalam  kehausan dan  kelaparan  yang  meraung-raung
Kasih Ibu menjagaku,  Ibu  membelaiku, Ibu  menyusuiku
Dengan penuh cinta Ibu melindungiku, Ibu mengayomiku
Tak  pernah  mengeluh  meski peluh basahi sekujur tubuh
Dan,  rangkaian  nada-nada  rasa asih  penuh  tresna kasih
Gemakan  sepinya  malam,  damaikan jiwaku diperaduan

Ibu, meskipun kau sudah lama pergi penuhi panggilan Ilahi
Semua  kenangan  masih melekat kuat  terukir indah di hati
Kenangan tentang segala perjuangan ibu di belakang rumah
Waktu ibu bercocok tanam metik sayuran dan buah-buahan
Tentang perjuangan ibu menanam dan menuai padi di sawah
Sementara aku berlari-lari kecil di pematang di jalan setapak
Seraya  main  musik  gogolio  dari batang padi yang dipapak
Nyanyikan kidung irama alam kehidupan kampung halaman

Ibu, aku juga selalu terkenang-kenang dan masih tetap ingat
Saat ibu  tarik  gerobak berisi buah dan sayuran dengan kuat
Menyusuri  jalan  Luano, Purworejo dengan beban kian sarat
Di saat kondisi jalanan yang begitu becek, lengket, berlubang
Karena  kemarinnya hujan turun dari pagi hari hingga petang
Namun Ibu tetap berangkat tak  menganggap itu penghalang
Dan, aku pun turut  bantu  mendorong  gerobak di belakang
Berjaga agar tidak ada sayur dan buah yang jatuh terbuang

Ibu, maafkan anakmu yang tak pernah sempat membalas budi
Aku sadar segala budi dan jasamu  tak akan terbalas sampai mati
Berjuang melawan maut antara hidup dan mati saat melahirkan aku
Berjuang membesarkan aku dengan segala derita dan jerih-payahmu
Berjuang keras dalam menyekolahkan aku dengan segala doa-doamu
Tulus tak berpamrih semata-mata hanya besarnya rasa kasih kepadaku

Ibu, sekali lagi maafkan anakmu yang belum sempat membalas jasamu
Kini, aku hanya bisa  mencontoh dan meneladani segala perjuanganmu
Memberikan contoh teladan kepada semua cucu-cucu dan cicit-cicitmu
Tentang sikap mandiri, tentang sikap tak kenal menyerah dan putus asa
Tentang kejujuran,  cinta kasih sayang,  kebersamaan dalam perbedaan
Sikap tak kenal menyerah  dalam berjuang dan berdoa kepada Tuhan

Bumi Pangarakan, Bogor
Senin, 23 Desember 2013, 10:17 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar