Sabtu, 02 Mei 2015

ULAR WELING DI PERIGI BUKIT CIBELING Karya: Slamet Priyadi 42


"ULAR WELING DI PERIGI BUKIT CIBELING"
Karya: Slamet Priyadi 42

Saat Surya pagi pancarkan sinarnya yang putih keperakan
Merasuk celah-celah jendela bambu bilik kamar peraduan
Dan sentuh keriput kulit wajahku terasa menghangatkan
Sadarkan  aku dari gelap tidur lelap yang berkepanjangan
Kusingkap selimut tebal motif tumpal yang lekat di badan
Lalu bangkit dari amben panjang mata menatap ke depan

Nun,  jauh di sana nampak hamparan bukit hijau Cibeling
Diselimuti kabut nan putih yang menebari bukit sekeliling
Sang mentari sembul di balik bukit sang fajar menyingsing
Jalan panjang berbatu kelak-kelok kitari curamnya tebing
Jernih air pancuran mengalir di parit solokan menggasing
Bangkitkan hasrat ‘tuk langkah ke sana obati rasa pening

Dan,  aku pun berangkat pergi tanpa alas di telapak kaki
Berjalan sendiri langkah mendaki bukit Cibeling yang sepi
Menuruni  jalan terjal berbatu, mendaki jalan kelok tinggi
Di pancuran sebatang bambu hijau, air mengalir ke perigi
Aku basuhkan muka bersihkan wajah dan bercermin diri
Dalam jernihnya air perigi tersembul wajah kotor berdaki

Aku tersentak, terperangah, wajah itu wajahku sendiri
Tampak jelek, dipenuhi bintik-bintik kutil tajam berduri
Maka  kubenamkan muka  selami lagi air di dalam perigi
Di balik batu hitam, ada ular weling sepanjang dua kaki
Ke  luar menjalar berkata  seperti berpesan menasehati
“Tuan, cepatlah kembali,  jangan lupa keluarga sendiri!”

Pesan magis ular weling sadari aku dari apa yang terjadi
Dengan pakaian basah kuyup aku pergi tinggalkan perigi
Kembali ke pondok tua berbilik bambu milik aku sendiri
Sambil pikirkan dengan segala kejadian yang baru kualami
Tiba-tiba, aku terjatuh dari amben panjang yang kutiduri
Dan, aku baru sadar, rupanya  semua itu hanyalah mimpi



Sabtu, 02 Mei 2015 – 18:13 WIB
Slamet Priyadi 42 di Pangarakan, Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar