Rabu, 24 Oktober 2018

Ki Slamet Priyadi 42 : “SANG BOMANTARA” Pupuh 17

Blog Ki Slamet : "Sajak Puisi Slamet Priyadi"
Kamis, 25 Oktober 2018 - 03:35 WIB

"Bomantara"
Bomantara
Ki Slamet Priyadi 42 :
“SANG  BOMANTARA”
Pupuh XVII ( 1-26 )

17.  Asmara Raden Samba, Suranata, dan Surama

(1)
Kononlah, kedua Patih Suranata dan Patih Surama
Dapat Dewi Tunjung Biru dan Dewi Tunjung Maya
Maka Dewi Tunjung Biru tanya pda Patih Suranata:
“Siapakah kau ini yang nampaklah gagah perkasa?”
Jawablah Patih Suranata: “Hambalah yang Bernama

(2)
Patih Suranata pengawal hulubalang Raden Samba
Dan hamba diperintah oleh ayahnya, Betara Kresna
Untuk tumpaslah gerombolan para raksasa denawa
Yang ‘lah banyak binasakan para begawan pertapa
Yang ada di gunung Jingga dan gunung Angkasa.”

(3)
Tukas Patih Suranata seraya memperbaiki mahkota
di kepalanya, kemudian melanjutkan kata-katanya:
“Semua ini atas titah Betara Guru,  Sang Jagadnata
Kepada Raden Samba ‘tuk menumpas para raksasa
Serta kedua patihnya,Pralemba dan Wira Angkasa!”

(4)
Sementara Surama yang dapat Dewi Tunjung Maya
Sedang berasyik-masyuk pula di dalam taman tirta
Maka ketiganya pun bermesraanlah bersama-sama
Di dalam taman tirta di saat menjelang malam tiba
Hingga mereka lupa karena terbuai nikmatnya cinta

(5)
Para menteri, hulubalang yang menantikan mereka
Salinglah bertanya kepada Begawan Karanda Dewa
Sebab hingga tengah malam mereka belumlah tiba:
“Begawan, sungguhlah kami khawatir pada mereka,
Takut ada kejadian apa-apa pada mereka bertiga.”

(6)
Maka kata Begawan Karanda seraya elus jenggotnya:
“jika demikian kalian tunggu di sini, aku akan ke sana
Untuk melihatnya!” Segera  Begawan Karanda Dewa
Masuklah ke dalam taman tirta untuk temui mereka
 Tetapi Raden Samba Prawira, Suranata, dan  Surama

(7)
Tidak berada di dalam taman itu, heranlah Karanda:
“Lo, kemanakah perginya mereka itu, Raden Samba,
Patih Suranata, dan Patih Surama?” sebab itu maka,
Begawan Karanda Dewa pun diam sejenak lalu dia
Berjalan kembali pada balai gading tempat semula

(8)
Raden Samba Prawira duduk beristrirahat di sana
Betapa Begawan Karanda Dewa terpukau jadinya
Melihat hasil seni ukiran yang indah-indah di sana
Di  balai gading yang tampaklah di  sekelilingnya
Ditumbuhi pohon-pohon yang sedang berbunga

(9)
Dilengkapi tempat tidur bertiraikan kelambunya
Begawan Karanda Dewa pun jadi bertanya-tanya:
“Siapa yang miliki balai ini, apa dia Pertapa pula?
Hm, akan tetapi jika dilihat dari cara-cara menata
Pastilah ini hasil tata laku seorang bidadarilah jua

(10)
Ya, jangan-jangan Raden Samba Prawira, Surama,
Dan Suranata itu,  mereka semua  berada  di sana
Sebab aku lihat ada tiga bilik balai peraduannya.”
Maka Karanda Dewa pun keluar dari Taman Tirta
Secara perlahan agar tak diketahui Raden Samba

(11)
Ketika Begawan Karanda melangkahkan kakinya,
Dia mendengar suara Raden Samba Prawirajaya
Dan pula Suara Patih Suranata pun Patih Surama
Dari dalam bilik balai peraduan yang dilewatinya
Begawan Karanda cepat tinggalkan Taman Tirta

(12)
Dia jadi tersenyum ketika tadi mendengar suara
Raden Samba, Patih Suranata dan Patih Surama
Ketika merayu masing-masing dari bidadarinya
Setelah sampai, maka dia menghimpun segera
Segala menteri dan hulubalang para prajuritnya

(13)
Agar semuanya  segera kumpul di Taman Tirta
Maka terdengarlah suara berisik sorak mereka
Oleh Raden Samba Prawirajaya, Patih Suranata,
Dan Patih Surama yang sedang bercengkerama
Prajurit tersenyum, tahu tuannya dimabuk cinta

(14)
Sadar dengan apa yang terjadi, seketika itu juga
Terasa emas tubuh Dewi Tunjung sari dibuatnya
Nampaklah pula jadi pucat pasi paras wajahnya
Hal itu membuat Raden Samba jadi merasa iba
Lalu ia pun menyuruhnya mandi seraya berkata:

(15)
“Dinda Dewi Tunjung Sari belahan sukma kanda
Sebaiknya segeralah dinda mandi di Kolam Tirta
Dan kanda pun akan mengantar dinda ke sana!”
Maka Dewi Tunjung Sari dipapah Raden Samba
Dari atas balai bilik peraduannya ke Kolam Tirta

(16)
Sementara itu Begawan Karanda Dewa beserta
Segenap hulubalang jadi tercengang dibuatnya
Saat melihat tuannya Raden Samba Prawirajaya
Memapah seorang Bidadari yang teramat jelita
Setelah selesai mandi Raden Samba Prawirajaya

(17)
Dan Dewi Tunjung Sari kembalilah ke Balai Tirta
Demikian pula Patih Suranata dan Patih Surama
Mereka berdua pergi menuju ke Balai Tirta pula
Bersama dengan kedua Bidadari pujaan hatinya
Dia Dewi Tunjung Biru dan Dewi Tunjung Maya

(18)
Dewi Tunjung Sari pun segera sambut mereka
Lalu duduk di atas balai gading yang tersedia
Betapa suka-citanya Raden Samba Prawirajaya
Melihat mereka bertiga bercanda bersuka cita
Bercengkerama menceritakan pengalamannya

(19)
Ketika itu datanglah Begawan Karanda Dewa
Beserta segala menteri hulubalang semuanya
Menghadap pada Raden Samaba Prawirajaya
Maka Berkata Sang Begawan Karanda Dewa:
“Kami ucapkan selamat untuk tuanlah bertiga

(20)
Karena telah mendapatkanlah emas permata
Yang amat sangat indah tiadalah bandingnya
Di Taman Tirta ini!” Sementara Raden Samba
Hanya tersenyum begitu pun kedua patihnya
Sang Patih Suranata dan Sang Patih Surama

(21)
Maka,  dengan senyum dikulum Raden Samba
Berkata: “Benar kata paman Begawan Karanda,
Tetapi sekarang ini juga paman Karanda Dewa
Segeralah himpun menteri, hulubalang semua
Bersiap untuk kembali dahulu ke negeri kita!”

(22)
“Siap Raden, segala menteri hulubalang semua
Mereka Sudah hamba kumpulkan tinggal hanya
 Menunggu perintah darilah Raden Samba saja!”
Demikian jawaban dari Begawan Karanda Dewa
Maka berkatalah pula Raden Samba Prawirajaya:

(23)
“Jika demikian, perintahkan segala prajurit kita
Untuk segera berjalan, siapkan pula keretanya
Beserta sekalian gajah dan kuda penariknya!”
Maka Sang Begawan Karanda Dewa berkata:
“Siap, segala titah patik junjung di atas kepala!”

(24)
Maka para menteri, hulubalang pun semuanya
Mulailah bergerak berjalan dengan keretanya
Raden Samba naik kereta dengan bidadarinya
Dewi Tunjung Sari, begitu pula Patih Suranata
Naik kereta berada di sisi kanan Raden Samba

(25)
Sedang Patih Surama di sisi kiri Raden Samba
Nampak mesra bersama Dewi Tunjung Maya
Sedangkan Begawan Karanda Dewa, beserta
Segala menteri, dan para hulubalang berada
Di posisi belakang Raden Samba Prawirajaya

(26)
Mereka pun bergerak menuju arah Sang Surya
Mulai pancarkan sinarnya terangi mayapada 
Maka teramatlah gegap gempitalah suaranya
Apalagi bunyi suara pasukan gajah dan kuda
Amat bergemuruh dan memekakkan telinga


Minggu, 25 Oktober 2018
Pukul : 03:46 WIB
REFERENSI :
Balai Pustaka, “Sang Boma”
Penerbit : Balai Putaka 1978

Tidak ada komentar:

Posting Komentar