Rabu, 10 Oktober 2018

Ki Slamet Priyadi 42: "SANG BOMANTARA" Pupuh XIII

Blog Slamet Priyadi: "Sajak Puisi Ki Slamet 42"
Kamis, 11 Oktober 2018 - 05:16 WIB



Bomantara

Ki Slamet Priyadi 42 :

“SANG  BOMANTARA”
Pupuh X1II ( 1-36 )

13.  Tewasnya Patih Pralemba dan Patih Angkasa

(1)
“Hai Surama, akulah lawanmu, hadapi aku Pralemba
Patih Trajutrisna, kepercayaan Maharaja Bomantara.”
“Sudahlah Patih Pralemba, tidak perlu banyak bicara
Marilah kita beradu kesaktian dengan senjata gada!”
Surama pun putar gadanya lalu dipukulkan ke dada

(2)
Patih Pralemba cepat tangkis pukulan gada Surama
Dengan gadanya pula hingga suara benturan gada
Keluarkan percikan api dan suara keras membahana
 Namun hal tersebut tidak buat kecut hati keduanya
Malah keduanya itu, justru saling ejek dan mencela:

(3)
“Ha, ha, ha, ha, segitu saja kemampuanmu Surama,
Hayo keluarkan kesaktianmu dalam mainkan gada,
Lihatlah di sana, prajuritmu sudah banyak perlaya
Mayatnya tak bersisa karena semuanya dimangsa
Oleh prajuritku yang memang pemakan manusia!”

(4)
Sementara di tempat lain seorang prajurit raksasa
Yang bernama Arya Pakitup, betapalah beraninya
Dengan senjata saktinya, lembing Samoga-moga
Mengamuk dengan amarah yang menyala-nyala
Bunuhbinasakan banyak pasukan Raden Samba

(5)
Melihat prajuritnya banyaklah yang tewas binasa
Suranata hampiri Arya Pakitup serayalah berkata:
“Arya Pakitup, tandangmu sungguh liar dan gila,
Akulah lawanmu!” Sesorah Sang Suranata seraya
Menaiki  kudanya yang bermata merah menyala

(5)
Pada saat Sang Suranata naiklah keatas kudanya,
Kesempatan itu pun  dimanfaatkan oleh raksasa
Arya Pakitup seranglah Suranata dengan senjata
Saktinya yang bernama Limpung Samoga-moga
Kuda perang Suranata mengerti aba-aba tuannya

(6)
Meringkik keras tangkis Limpung Samoga-moga
Dengan menendangkanlah kedua kaki depannya
Ke arah tangan Arya Pakitup sehinggalah senjata
Sakti itu tiadalah mengenai tubuh Sang Suranata
Hal ini membuat Arya Pakitup amatlah berangnya

(7)
Maka ia pun cepat merapal aji sakti panca dahana
Dari mulutnya keluarkan api yang menyala-nyala
Api panca dahana lalu disemburkan ke arah kuda
Dan tubuh Sang Suranata, namun tiada bisa juga
Dapatlah membakar tubuh Surama dan kudanya

(8)
Oleh karena Surama telah merapal ajian mantera
Bayu Segara yang bisa datangkan angin dan tirta
Maka api panca dahana kalislah, dan hilang sirna
Tiada satupun jua senjata Arya Pakitup yang bisa
Binasakan kuda sakti tunggangan Sang Surama

(9)
Maka, Sang Surama mengeluarkan senjata gada
Lalu,  secepat kilat gada itu dipukulkan ke kepala
 Arya Pakitup yang tewaslah ia pada saat itu juga
Demi melihat Arya Pakitup ‘lah gugurlah perlaya
 Maka Arya Samoga yang berada di udara segera

(10)
Turun menuju ke arena pertempuran medan laga
Dan bersama seluruh pasukannya,  Arya Samoga
Memukuli prajurit Raden Samba dengan gadanya
Sehingga banyaklah dari pasukan Raden Samba    
Meregang nyawa dibunuh oleh pasukan raksasa

(11)   
Melihat amok Arya Samoga yang membabi buta
Yang telah banyak memakan korban prajuritnya,
Giliran Suranata dengan segenap hulubalangnya
Hadapi Arya Samoga dengan ilmu kesaktiannya
Hingga pertempuran nampaklah gegap gempita

(12)
Mereka saling tikam, saling pukul dengan gada
Ada saling tombak, saling panah, pendek cerita,
Bunyi suara sorak sorai dan gemerincing senjata
Dari kedua pasukan begitu amatlah gemuruhnya
Laksanalah gemuruhnya suara ombak samudera

 (23)
 Nampak bangkai mayat dari pasukan keduanya
Berserakan,  menghampar di arena medan yuda
Tetapi darilah banyaknya mayat-mayat yang ada
Mayat-mayat pasukan Raden Samba Prawirajaya
Yang paling banyak gugur perlaya di medan laga 

(14)
Hal itu membuat Suranata amatlah berangnya
Oleh karena itu ia mengeluarkan panah saktinya
Demikianlah pula halnya dengan  Arya Samoga
Hingga mereka saling beradu senjata panahnya
Saat Arya Samoga lambat ambil anak panahnya

(15)
Sang Suranata pun cepat ambil anak panahnya
Dilesatkanlah tepat ke arah dada Arya Samoga
Panah sakti itu tembus hingga ke belakangnya
Maka tewaslah Arya Samoga seketika  itu juga
Maka bersorak gembira pasukan Raden Samba

(16)
Demi melihat gelagat buruk oleh sebab tewasnya
Pimpinan mereka Arya Pakitup dan Arya Samoga
Pasukan raksasa yang tersisa selamatkan dirinya   
Mereka semuanya berlari terbanglah ke angkasa
Melapor kepada pimpinan kepala Patih Pralemba

(17)
Adapun Patih Pralemba dan Patih Wira Angkasa
Menjadi amat terkejut ketika melihat prajuritnya
Datang dengan tergopoh-gopoh pucat mukanya
Seperti orang ketakutan saja, maka dia bertanya:
“Hai prajuritku, ada berita apa yang kamu bawa?”

(18)
Dengan bicara terbata-bata, prajurit itu berkata:
“Ketiwasan tuanku, pasukan kita di medan yuda
Banyaklah yang tewas,  demikianlah pula halnya
Dengan kedua kepala pasukan kita Arya Samoga
Dan Arya Pakitup,  mereka berdua pun  perlaya!”

(19)
Dengar tewasnya Arya Pakitup dan Arya Samoga
Betapa marah Patih Pralemba dan Patih Angkasa
Patih Pralemba lalu berdiri dari tempat duduknya
Kemudian ia pun bertanyalah kepada prajuritnya:
“Huaaah bedebah, siapakah yang membunuhnya?

(20)
“Ya tuanku, Arya Pakitup tewas oleh Sang Surama
Sedangkan Arya Samoga dibunuh oleh Suranata!”
Demikianlah jawaban dari para prajurit Trajutrisna
Seraya merunduk hormat kepada patih Pralemba
Lalu Patih Pralemba dan Patih Angkasapun segera

(21)
Naik ke gajah tunggangannya serayalah berkata:
“Hm, tunggulah hai kamu Suranata, dan Surama
Aku pasti akan bunuhlah kalian di medan laga!”
Setelah berkata demikian, Sang Patih Pralemba
Dan Patih Angkasa pun hentakkanlah gajahnya

(22)
Bersama para prajuritnya pergi  ke medan laga
Setiba di sana dia langsunglah sesorah berkata:
 “Hai kamu Suranata dan Surama prajurit kepala
Pasukan Dwarawati yang konon gagah perkasa,
Hayo hadapilah kami jangan bersembunyi saja!”

(23)
Para  pertapa yang dipimpin  Begawan Karanda
Yang pada saat itu berada di posisi paling muka
Dipimpinlah oleh Sang Begawan Karanda Dewa,
Hadapilah para raksasa dengan tongkat saktinya
Karanda Dewa putar tongkatnya seraya berkata:

(24)
“Wuah, kalian raksasa tidak punya tata kerama
Yang telah bantai orang kami, paralah pertapa
Di gunung Jingga hadapilah aku Karanda Dewa
Darilah tongkat yang diputar, keluarlah senjata
Tasbih yang mendesing tembus kepala raksasa

(25)
Banyaklah prajurit raksasa yang tewas seketika
Dengan luka bolong di sekitar kening kepalnya
Hal ini membuat Patih Pralemba, Patih Angkasa
Betapalah berangnya, segeralah Patih Pralemba
Keluarkan kesaktiannya, maka darilah mulutnya

(26)
Berhembuslah taufan yang kencang tak terkira
Menghempas segenap para begawan pertapa
Hingga terlempar membentur prajurit lainnya
Bahkan banyak yang mati terluka oleh karena
Tubuhnya terkenalah senjata teman-temannya

(27)
Maka,  nampak Raden Samba di atas keretanya
Yang berada di lapis kedua dari pasukan Samba
Maka berteriaklah dengan keras Patih Pralemba
Serayalah berkata: “Wuih kau Suranata, Surama,
Jangan sembunyi, di manakah kalian berdua ?”

(28)
Begawan Anggi yang sadarlah dari pingsannya
Segera melompat sambil melempar tongkatnya
Tongkat pun  melesat ke tubuh Patih Pralemba
Tapi tongkat itu ditiup balik lewat aji bayu bajra
Ke Begawan Anggi tepat menembus  dadanya

(29)
Tewaslah Begawan Anggi seketika saat itu juga
Hal ini buat Raden Samba betapalah marahnya
Berkata Raden Samba: “Hai kau patih Pralemba
Dan kau Patih Wira Angkasa, Raksasa angkara
Kalian telah bantai para begawan dan pertapa

(30)
Maka atas perintah dari ayahku Batara Kresna,
Aku akan segera menghukummu, dan semua
Prajuritmu yang telah binasakan para pertapa
Pastilah kalian semua menerima hukumannya 
Di hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini juga

(31)
Demilah mendengar perkataan Raden Samba
Betapa terasa panas di telinga Patih Pralemba
Dia sesorah: “Sudahlah tak usah banyak bicara
Terimalah ini keris sakti konta samber nyawa!”
Patih Pralemba tikamkan keris samber nyawa

(32)
Ke bagianlah perut Raden Samba Prawirajaya
Tetapi kalis tubuh Raden Samba kebal senjata
Malah lengan Patih Pralemba yang dicekalnya
Lalu ditelikung ke arah jantung Patih Pralemba
Maka tewaslah Patih Pralemba seketika itu juga

(33)
Tewasnya Patih Pralemba dilihat Patih Angkasa
Patih Angkasa betapa marahnya, ia pun segera
Mengeluarkanlah senjata gada sakti sagala-gala
Lalu dipukulkanlah ke arah kepala Raden Samba
Secepat kilat Samba menghindari pukulan gada

(34)
Lompat ke belakang seraya ambil panah Cakra
Lalu panah cakra dilesat ke tubuh Patih Angkasa
Panah cakra tepatlah mengenai lehernya hingga
Putus kepalanya, maka tewaslah Patih Angkasa
Dan tubuhnya pun jatuh ke bumi tanpa kepala

(35)
Para prajurit raksasa yang saksikan pimpinannya
Patih Pralemba dan Patih wira Angkasa perlaya
 Larilah berhamburan ke angkasa entah kemana
Kononlah mereka kembali ke negeri Trajutrisna
Melapor kekalahannya kepada Raja Bomantara

(36)
Bersamaan dengan tewasnya Patih Pralemba
Dan Patih Wira Angkasa, di timur Sang Surya
Tersenyumlah merekah menyinari bumi loka
Seakan sambutlah kemenangn Raden Samba
Dalam tumpas tuntas segala angkara murka


(37)
Kononlah kisah menurut yang empunya ini cerita
Setelah Patih Pralemba,  Patih Angkasa keduanya
Tewas, mayatnya itu dibawa ke negeri Trajutrisna
Oleh Raja Boma mayat keduanya, Patih Pralemba
Dan Patih Angkasa dicipratkan air Wijaya Kusuma

(38)
Salah satu kembang milik Dewa Wisnu yang bisa
Hidupkan manusia yang sudah meninggal dunia
Oleh Wisnu,  Kembang Cangkok Wijaya Kusuma
Dianugerahkanlah kepada puteranya Bomantara
Darilah istrinya Dewi Pertiwi penguasa Bumi loka

(39)
Maka setelah Bomantara mencipratkan ke wajah 
Kedua patihnya, Pralemba dan Wira Angkasa tirta
Kembang cangkok wijaya kusuma maka seketika
Hidup kembali Patih Pralemba dan Patih Angkasa
Mereka pun bangkit lalu sembah Raja Bomantara



Senin, 1 Oktober 2018
Pukul : 05:20 WIB
REFERENSI :
Balai Pustaka, “Sang Boma”
Penerbit : Balai Putaka 1978
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar