Sabtu, 20 Oktober 2018

Ki Slamet 42 : "SANG BOMATARA" Pupuh 15

Blog Ki Slamet Priyadi
Sajak Puisi Ki Slamet Priyadi 
Minggu, 21 Oktober 2018 - 06:17 WIB

Bomantara
Bomantara

Ki Slamet Priyadi 42 :
“SANG  BOMANTARA”
Pupuh XV ( 1-20 )

15. Bertemu Tiga Bidadari Dari Kayangan

 (1)
Alkisah setelah bermohon diri kepada pertapa,
Raden Samba bersama Begawan Karanda Dewa
Serta segenap para hulubalang, dan prajuritnya
Pun berjalanlah melewati hutan rimba belantara
Bergerak menuju arah terbenamnya sang Surya

(2)
Di sepanjang jalan dia melihat beraneka bunga
Harum semerbaklah wanginya seperti layaknya
Persembahkan wangi itu kepada Raden Samba
Setelah sekian lama berjalan tampaklah di mata
Ada sebuah desa terletak di kaki bukit Perjuwita

(3)
Banyaklah tumbuh pepohonan lebatlah buahnya
Ranum-meranum berwarnakan merahlah belaka
Hingga banyak burung-burung hinggap di sana
Berterbangan dari pohon satu ke pohon lainnya
Makanlah buah-buahan itu  dengan  nikmatinya

(4)
Tiba di desa Perjuwita Raden Samba Prawirajaya
Segeralah singgah,  oleh karena itu maka segala
Gajah, kuda tunggangan, dan semua keretanya,
Ditambat pada pohon-pohon itu serta pakannya
Lalu Raden Samba dan Begawan Karanda Dewa

(5)
Pun duduklah di bawah pohon nagasari seraya
Perhatikan burung-burung bercanda bersukaria
Berterbangan kian-kemari tiada henti-hentinya
Tiadalah terasa hari pun sudah diambang senja
Burung hantu di atas pohon berguik suaranya

(6)
Burung-burung cacar mencuit keras bersuara
Teramatlah riuh,  seperti tegur  Raden Samba
Begawan Karanda Dewa,  beserta pasukannya
Agar bebersihlah diri mandi di kolam yang ada
Di desa Perjuwita tidak jauh dari Raden Samba

(7)
Kolam itu berada di tengah taman yang serba
Indah rupanya, pagarnya berukir bunga-bunga
Yang ditumbuhi banyak pohon beraneka rupa
Dengan bunga-bunga yang harumlah baunya
Di tepi taman, terdapat jambangan perak suasa

(8)
Yang ditanami dengan bermacam bunga-bunga
Antaranya bunga taluki, melur,  dan sebagainya
Ya, begitulah pula di sepanjang pagar-pagarnya
Di dalam taman itu terdapatlah tiga puteri jelita
Tunjung Sari, Tunjung Biru, dan Tunjung Maya

(9)
Di antara ketiga puteri yang dikenal cantik jelita
Dewi Tunjung Sari  yang  paling cantik parasnya
Alkisah diceritakanlah oleh yang empunya cerita
Suatu ketika, Batara Kamajaya ke Kayangan Loka
Ia melihat Dewi Tunjung Sari cantiklah parasnya

(10)
Maka Betara Kamajayapun bermaksud membawa
Ketiganya ‘tuk dijadikan dayang tapi menolaknya
Maka ketiganya melapor kepada Sang Jagadnata
Betara Guru merasa kasihan, maka berkatalah ia:
“Hai Tunjung Sari, Tunjung Biru,  Tunjung Maya,

(11)
Kalian bertiga ini masih berada Inderaloka, niscaya
Kalian bertiga akan dibawanya juga oleh Kamajaya
Karena itulah kalian bertiga turunlah ke Marcapada
Agar tak diambil Kamajaya jadi dayang-dayangnya!”
Maka ketiganya menangis,  menyembah Jagadnata

(12)
Kemudian ketiganya itu pun turunlah ke Marcapada
Ke desa Perjuwita tempat singgahnya Raden Samba
Mendiamilah taman itu hingga ‘tuk berapa lamanya
Maka Tunjung Sari, Tunjung Biru dan Tunjung Maya
Duduklah di atas balai gading seraya petiklah bunga

(13)
Di taman itu, ketiganya betapa amatlah suka citanya
Suasanya nyaman, sejuk, asri dengan beraneka rupa
Bunga-bunga yang sangat harum semerbak  baunya
Disertai suara gemericik air yang memancar dari sela
Batu-batu yang menghampar di tengah kolam tirta

(14)
Ketika hari pun menjelang rembang petang, maka
Sang Surya mulai sembunyi di balik gunung Jingga
Nampak kumbang hisap bunga di tepi kolam tirta
Berdengung-dengung suaranya di telinga laksana
Lantunan nada-nada indah tembang asmarandana

(15)
suara serangga malam terdengarlah menggema
Burung-burung pun  berkicauan riang suaranya
Nyaring melengking terasa pekakkanlah telinga
Seperti memberi tahu pada ketiga bidadari jelita
Tibanya Raden Samba Prawirajaya ke taman tirta

 (16)
Saat itu Dewi Tunjung Sari sedang ciumi bunga
Sambil berbaring tengadah tataplah ke angkasa
Terbayanglah dia akan kayangan keinderaannya
Tiadalah terasa air matanya menetes di pipinya
Laksana mutiara yang berkilauanlah cahayanya

(17)
Melihat itu, Dewi Tunjung Biru pun iba hatinya
Akan Dewi Tunjung Sari maka diapun bertanya:
“Dinda, ada apa dinda menangis begitu rupa?”
“Ya Kanda, adapun dinda menangis ini, karena
Dinda teringat pada Kayangan Kainderaan kita

(18)
Tidakkah kita ini akan dikembalikan lagi ke sana
Oleh Betara Guru Sang Jagad Nata itu,  kanda?”
Tanya Dewi Tunjung Sari, tambah kesedihannya
Jawab Dewi Tunjung Biru, perlahan dia berkata:
“Sudahlah dinda, tak perlu kita sesali semuanya

(19)
Itu sudah merupakan kehendak darilah Dewata
Tiadalah lagi kita dikembalikan ke Indera loka!”
Keduanya pun berpelukkan menangis sejadinya
Kesedihan mereka buatlah Dewi Tunjung Maya
Pun merasa iba juga, maka keduanya diajaknya

(20)
Pergi bermain-main untuk mandi di kolam tirta:
“Aduhai saudaraku, marilah kita bersama-sama
Mandi di kolam tirta bercandaria, bersuka-suka
Hilangkan segala duka lara, dan kesedihan kita
“Baik kanda!” Jawab keduanya nampak gembira


Minggu, 21 Oktober 2018
Pukul : 07:25 WIB
REFERENSI :
Balai Pustaka, “Sang Boma”
Penerbit : Balai Putaka 1978

Tidak ada komentar:

Posting Komentar