Jumat, 23 November 2018

Ki Slamet Priyadi : "SANG BOMANTARA" Pupuh 22 (1 - 50)

Blog Slamet Priyadi 42: "Sang Bomantara" 
Sabtu, 24 November 2018 - 05:45 WIB




Ki Slamet Priyadi 42 :

“SANG  BOMANTARA”
Pupuh XXII (1-50)

22.  Perintah Bomantara Bunuh Raden Samba


(1)
Berkisahlah yang empunya cerita Sang Bomantara
Sang Patih Surama  kendarai kereta Raden Samba
Yang diiringi oleh segenap para mennteri beserta
Sekalian hulubalang pergilah ke Negeri Trajutrisna
Sampai di batas wilayah kuasa kerajaan Trajutrisna

(2) 
Maka Patih Surama titahkan segenap prajuritnya
Untuk berhenti di tempat itu, maka diia  berkata:
“Wahai Prajurit Dwarati yang gagah nan perkasa
Segala menteri dan para hulubalang sekaliannya
Berhentilah kalian semuanya di sini, karena saya

(3)
Akan masuk secara nyelinap ke istana Trajutrisna
dengan menyamar menyatu dengan para raksasa
untuk mencari Raden Samba, oleh sebab itu pula
janganlah sampai lupa siapkanlah segala senjata!”
Maka sekalian menteri dan hulubalang semuanya

(4)
Bersiap seraya berkata: “Baik, segala titah hamba
Junjung di atas kepala dan patik lakukan segera!”
Setelah berkatalah demikian, maka Patih Surama
Menyamar dengan rubah dirinya menjadi raksasa
Lalu ia pergilah ke kota menuju istana Trajutrisna

(5)
Penyamarannya dengan rubah dirinya jadi raksasa
Sungguh tiada diketahui oleh para Prajurit raksasa
Karena dianggaplah prajurit raksasa Trajutrisna jua
Patih Surama pun masuk ke istana dengan leluasa
Hingga tiba di tempat para dayang-dayang istana

(6)
Kesaktian Sang Patih Surama  dalam beralih rupa
Memang sungguh luar biasa tiadalah ada duanya
Di tempat dayang-dayang ia pun beralihlah rupa
Jadi dayang pula hingga menyatu dengan lainnya
Adapun ketika dayang-dayang bermain bersama

(7)
Di bawah terangnya cahaya sang candra purnama
Ketiga dayang,  Dewi Puspawati, Dewi Nila Utama 
Dan Dewi Supraba itu mengetahuilah akan adanya
Seseorang yang menyamar sebagai dayang istana
Dewi Nila Utama  amatlah kenal dia Patih Surama

(8)
Lalu ketiga bidadari itu berilah tahu Raden Samba
Dewi Nila Utama pun masuklah serayalah berkata:
“Ya Raden Samba, saya melihat ada Patih Surama
Di antara para dayang-dayang istana di luar sana!”
Maka berkata Dewi Januati: “Duh kanda Dewi Nila

(9)
Apalah yang kakanda kata ini? Sang Patih Surama
Dia itu laki-laki dan dayang-dayang itu kan wanita
Apakah benarlah kata kakanda ini kepada adinda?”
Maka Raden Samba berkata pada Dewi Nila Utama:
“Kanda Dewi,  sekarang coba panggil oleh kakanda

(10)
Dayang Surama itu menghadap saya sekarang juga
Karena  Dinda Dewi Januati hendak lihat akan dia!”
Maka Dewi Nila Utama pun panggil Patih Surama
Yang kini sedang beralih rupa jadi dayang istana:
“Wahai dayang,  engkau dipanggil Raden Samba

(11)
Karena engkau tak lagi sembahkan bunga-bunga
Kepada Dewi Januati dan Baginda Raden Samba!”
Maka sang dayang yang juga ialah Patih Surama
Masuk ke dalam istana diantar Dewi Nila Utama
Tuk menghadap pada Raden Samba Prawirajaya

(12)
Setelah tibalah di hadapan Raden Samba,  maka
Sang Dewi Nila Utama merunduk seraya berkata:
“Raden Samba dan Dinda Dewi Januati, inilah dia
Saya hadapkanlah dayang alih rupa Patih Surama
Ke hadapan Baginda Raden Samba Prawirajaya!”

(13)
Maka kata Raden Samba:  “Paman Patih Surama
Bagaimanakah kabarnya selama kita tak bersua?”
Patih Surama pun segera kembali beralihlah rupa
Ke wujud semula lalu memeluklah Raden Samba
Seraya berkata: “Keadaan patik ini baik-baik saja

(14)
Oya Raden, ada pesan darilah Begawan Karanda
Dan segenaplah para pendeta di gunung Jingga
Agar Raden tiadalah juga berlama-lama berada
Di istana Maharaja Boma sebab amat berbahaya
Karena itulah patik susul paduka ke Trajutrisna!”

(15)
Raden Samba tersenyum dengar kata Surama
Sementara Dewi Januati ia cuma berdiam saja
Saat Raden Samba berkata pada Patih Surama
Rupanya dilihat oleh Nila Suri dayang raksasa
Maharaja Bomantara yang pada saat itu juga

(16)
Datangi Raden Samba lalu cabut pedangnya
Seraya berkata: “Hai, siapakah kalian berdua
Berani mengganggu kekasih Maharaja Boma
Sang Penguasa Trajutrisna yang sakti digjaya
Tiadalah terkalahkan meski ia seorang Dewa!”

(17)
Demi mendengar segala kata raksasi denawa
Dayang Nila Suri maka Raden Samba Prawira
Cabut kerisnya seraya berkata pada patihnya:
“Hai Patih Surama, cepatlah bawa sisihan saya
Biar saya saja yang hadapi ini dayang raksasa!”

(18)
“Tidak Raden, biar patik yang hadapi raksasa
Jumawa ini, Raden Sambalah yang sebaiknya
Membawa dinda Januati puteri Raja Jantaka 
Sisihan Raden karena ia masihlah membara
Rinduanya pada raden!” Sahut Patih Surama

(19)
Maka Patih Surama pun keluarlah dari istana
Berkata seloroh menantang dayang raksasa:
“Hai Nila Suri, kamu kacung Raja Bomantara
Yang amat kejam membunuhi para pendeta
Porakporandakanlah tempat pertapaannya!

(20)
Hayo keluarlah, kita bertempur di luar sana
Panggil sekalian rajamu  yang sakti digjaya
Si Bomantara, tiadalah saya takut padanya!”
Kata Patih Surama  seraya keluar dari istana
Disusul oleh Dewi Nila Suri di belakangnya

(21)
Diceritakan setelah keberadaan Raden Samba
Dan Patih Surama berada di istana Trajutrisna
Diketahui oleh Dewi Nila Suri dayang denawa
Lalu Patih Surama menyuruhlah Raden Samba
Membawa keluar sisihannya keluar dari istana

(22)
Raden Samba pun bergabung dengan segala
Menteri dan hulubalang dan para prajuritnya
Yang berada di daerah perbatasan Trajutrisna
Memimpin mereka untuk bantu Patih Surama
Yang bertempurlah dengan dayang Dewi Nila

(23)
Sementara Patih Surama dengan pedangnya
Mengamuk sejadinya bagai seekor singa saja
Menggetarkan hati semua prajurit Trajutrisna
Maka berkata Patih Surama di dalam hatinya:
“Sekaranglah waktunya bunuh segala raksasa

(24)
Dan  bakarlah istana emas negeri Trajutrisna!”
Demi melihatlah tandang  Sang Patih Surama
Yang sudah banyak memakan korban nyawa
Sebagian prajurit Trajutrisna, maka Dewi Nila
Bersama para menteri hulubalang sekaliannya

(25)
Kepung Patih Surama dari berbagai arah istana
Saat datang  Sang Patih Mudra ke arena, maka
Bergemuruhlah sorak-sorai hulubalang raksasa
Maka berkata Patih Mudra dengan sekerasnya:
“Hua, ha ha ha ha ha ha.., engkau Patih Surama

(26)
Kebisaanmu hanyalah cuma bermain sulap saja
Beralih rupa pura-pura menjadi dayang istana
Huh..., Sekarang  coba tunjukkan kepada saya
Maka akan aku koyak-koyak wajahmu segera
Hm, dimanakah sekalian prajuritmu Surama?”

(27)
Dengar ejek Patih Mudra, Patih Surama Murka
Maka  putar-putarlah pedangnya lalu berkata:
“Hai Patih Mudra, sudahlah jangan bicara saja
Muak rasanya aku dengar kau bertutur kata!”
Maka Sang Patih Surama serang Patih Mudra

(28)
Dengan melompatlah cepat seraya pedangnya
Diarahkan lurus tepat ke  jantung Patih Mudra
Tapi Patih Mudra dengan cepat salto ke udara
Hindari pedang yang nyarislah membunuhnya
Maka,  Patih Mudra serang balik Patih Surama

(29)
Dengan keluarkan senjata yang berupa gada
Lalu gada itu dilempar ke arah Patih Surama
Gada melayang berputar-putar seperti cakra
Terbanglah melayang ke tubuh Patih Surama
Denganlah cepatnya sehingga Patih Surama

(30)
Tiada sempat lagi menghindari lemparan gada
Sang Patih Mudra yang begitu amat cepatnya
Maka Sang Patih Surama merapal aji kebalnya
Gada itu tiada dapat lukai tubuh Patih Surama
Malah mental ke arah pemiliknya Patih Mudra

(31)
Sadari dirinya tiada bisa kalahkan Patih Surama
Maka Patih Mudra perintahkanlah kepada para
Menteri, hulubalang, dan semua prajurit rakrasa
Untuk mengepung mengeroyok Patih Surama
Baik ia dalam keadaan hidup atau mati binasa:

(32)
“Wahai sekalian menteri hulubalang Trajutrisna
cepat kalian tangkap atau bunuh Patih Surama
Janganlah sampai dia itu loloslah dari ini istana
Karena dia Dewi Januati kekasih junjungan kita
Raja Bom bisa melarikan diri dari dalam istana

(34)
Jika kita tak berhasil menangkapnya lagi maka
Niscaya kita akan dihukum oleh sang baginda!”
Maka sekalian menteri,  dan prajurit Trajutrisna
Yang sakti-sakti kepung keroyok Patih Surama
Dengan bermacamlah senjata panah dan gada

(35)
Dengan gagah Patih Surama putar pedangnya
Lalu tangkis segala serangan panah dan gada
Meski Surama telah melambari  ilmu kebalnya
Tetapi karena diserang terus tiadalah hentinya
Akhirnya Patih Surama merasa kewalahan juga

(36)
Beruntunglah Patih Surama di saat tenaganya
Dan ilmu kekebalannya hampirlah hilang sirna
Datang bantuan dari Raden Samba Prawirajaya
Beserta menteri dan hulubalang yang seketika
Menyerang prajurit raksasa dengan panahnya

(37)
Maka banyak para raksasa yang mati seketika
Terkena panah-panah prajurit Samba Prawira
Sementara itu Raden Samba berikan aba-aba
Kepada Dewi Januati supaya gunakan segera
Panah sakti yang telah diberikan kepadanya:

(38)
“Duhai dinda dewi akan belahan jiwa kakanda
Keluarkanlah panah sakti anugerah Ayahanda
Prabu Betara Kresna sebab kanda lihat di sana
Semakin banyak berdatangan prajurit raksasa
Yang akan menangkap binasakan kita semua!”

(39)
Maka Dewi Januati keluarkan panah Marcujiwa
Sedang Raden Samba keluarkan senjata Cakra
Dan panah Tinjamaya anugerah Betara Kresna
Dengan sebat Dewi Januati dan Raden Samba
Seranglah para raksasa dengan panah saktinya

(40)
Hingga prajurit raksasa itu banyak yang binasa
 Tetapi pasukan raksasa denawa mereka laksana
Kumpulan lebah yang menyerbu tiada hentinya
Terus berdatangan dari udara tiadalah habisnya
Mereka semakin bertambah-tambah datangnya

(41)
Laksanalah ombak yang bergulung-gulung saja
Sehingga sebagian besar prajurit Raden Samba
Matilah pecah kepalanya terkena pukulan gada
Dan ada pula yang mati kena panah di dadanya
Para raksasa bersorak-sorak gemuruh suaranya

(42)
Seraya mereka berupaya masuk ke dalam istana
Tetapi dihadang oleh Patih Surama yang berjaga
Di depan pintu istana dengan amatlah gagahnya
Maka prajurit raksasa tiada berani memasukinya
Sebab mereka sudah lihat akan saktinya Surama

(43)
Melihat itu Patih Mudra menjadi amatlah murka
Maka dia kerahkan segenap para menteri semua
Masuk ke dalam istana tanpa takut pada Surama
Ada yang pecahkan kaca, melompati pagar istana
Lalu masuklah ke dalam istana dengan beraninya

(44)
Demi melihat itu maka berkatalah Raden Samba:
“Wahai adinda, panahlah semua raksasa denawa
Yang datang itu sebab mereka akan bunuh kita!”
Maka Dewi Januati lepas anak panah Marcujiwa
Dan panah menjadi berpuluh-puluh banyaknya

(45)
Mendesing ke arah para prajurit raksasa denawa
Hingga tembus ke dadanya lalu matilah seketika
Lihat prajurit yang masuk ke istana binasa semua
Demi lihat Dewi Januati merasa sakit di jemarinya
Raden Samba berkata kepada Sang Patih Surama:

(46)
“Paman Patih, bunuhlah semua  raksasa denawa 
yang masuk ke dalam istana itu tiadalah tersisa!”
“Siap Raden Samba!” Jawab Sang Patih Surama
Seraya keluarkan senjatanya yang berupa gada
Lalu mengamuklah sejadinya Sang Patih Surama

(47)
Sementara Raden Samba yang lihat kekasihnya
Sang  Dewi Januati nampaklah pucat wajahnya
Menahan rasa sakit karena radang di jemarinya
Maka  segera Raden Samba menggendongnya
Seraya siap dengan senjata panah di tangannya

(48)
Sedang Patih Surama dengan senjata gadanya
Berjalanlah di muka melindungi Raden Samba
Dan Dewi Januati yang keluar dari dalam istana
Dengan terus memutar-mutar senjata gadanya
Mengusir para raksasa yang hadanglah jalannya

(49)
Demi lihatlah Patih Surama dan Raden Samba
Sedang menggendong isterinya ‘tuk berupaya
Ke luar dari dalam istana maka prajurit raksasa
Yang berlaksa jumlahnya itu kepunglah istana
Mereka terus berdatangan turunlah dari udara

(50)
Mereka pun menjadi tercenganglah dibuatnya
Saat melihat Januati digendong Raden Samba
Oleh sebab dalam penglihatan prajurit raksasa
Keduanya Sang Dewi Januati dan Raden Samba
Nampak sebagai Dewi Candra dan Dewa Surya

B e r s a m b u n g !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar