Sabtu, 13 Februari 2016

“SETYA PATI DEWI SITI SUNDARI” Karya : Ki Slamet 42

Sajak & Puisi Ki Slamet 42
Minggu, 14 Febuari 2016 - 13:35 WIB

Dewi Siti Sundari & Dewi Utari  
 
Abimanyu

“SETYA PATI DEWI SITI SUNDARI”
Karya : Ki Slamet 42

Ketika tersiar berita Abimanyu gugur di Kurusetra
Betapa duka nestapa rasukliputi keluarga Pandawa
Sang ibu Wara Sumbadra tiada bisa tahan rasa lara
Berkali jatuh pingsan tak mau terima kenyataannya
Apa lagi kedua sang istri yang amat besar cintanya
Dewi Utari dan Dewi Siti Sundari yang amat jelita

Sungguh teramat iba Dewi Utari sedang hamil tua
Mengandung delapan bulan cucu dari sang Arjuna
Ia tak boleh ikut mati bersama suami ke alam baqa
Dan niscaya,  mesti tetaplah tinggal  di alam dunia
‘Tuk membesarkan ananda  sang Abimanyu putera
Maka Dewi Siti Sundarilah yang siap berpati setya

Wahai kanda Utari, janganlah terus susah nestapa
Biar  aku yang temani kanda Abimanyu  suami kita
Yang  telah gugur perlaya  sebagai  kesuma bangsa
Dan  kulakukan ini ‘tuk abdikan diri jiwa dan raga
Pada kanda Abimanyu yang dengan gagah perkasa
Berjuang korbankan nyawa demi keutuhan negara

Kanda Utari,  setulusnya kepadamu  aku meminta
Jangan sampai hilang lenyap akan kecintaan kanda
Kepadaku dan kepada kakanda Abimanyu tercinta
Buatlah syair indah di dalam bangunan mempesona
Tentang diriku agar aku bisa bicara pada kakanda
Sebab dengan syair itu aku bisa kembali menjelma

Kanda Utari hendaklah lihat pada bunga angsana
Yang di sana tumbuh dua di atas satu dahan saja
Dan kakanda Utari pun hendaknya menyapa saya:
“Ambillah bunga, wahai kau yang berbadan mega”
Dan dengan suara guruh aku akan menjawabnya:
“Air-mata akulah yang  jadi merupakan hujannya!”

“Dan kini pasti namaku burung tadah-asih, kanda
Suka terbang bermain di bawah cahaya purnama,
Kan bernasib suram dan mati jika tak ada cahaya
Bila purnama bersinar aku hidup lagi bersuka ria
Jika kanda Utari inginlah  berjumpa dengan saya
Bacalah syair di bunga pudak yang harum baunya”

Dan syair itu jangan kanda hapus dengan air mata
Yang mengalir  saat kanda  mencium pudak bunga
Demikian Siti Sundari akhiri ucapan kata-katanya
Sambil gigit daun sirih, Dia lompat ke api menyala
Kobaran api suci hantarkan damaikan jiwa sukma
Dewi Siti Sundari yang ikut suami mati Pati Setya

Kp. Pangarakan, Bogor
Sabtu, 13 Februari 2016 – 18:05 WIB

Rabu, 10 Februari 2016

“MISTERI JAM TIGA DUA-DUA PAGI” Karya : Ki Slamet 42

Sajak & Puisi Ki Slamet 42
Kamis, 11 Febuari 2016 - 13:04 WIB

 
“MISTERI JAM TIGA DUA-DUA PAGI”
Karya : Ki Slamet 42

Tepat pukul dua lewat tiga puluh di pagi hari
Alarem di HP Nokia jadulku nyaring berbunyi
Bangunkan aku darilah tidur yang lelap sekali
Peringatkan aku  agar cepat segeralah mandi
Untuk berangkat kerja lakukan tugas profesi

Sementara hujan lebat masih belum jua henti
Mengguyur basah kampung Pangarakan bumi
Basahkan becekkan jalan yang biasa aku lalui
Naik ojek si Kentung langgananku sehari-hari
Yang biasa antar aku  pergilah kerja tiap pagi

Sambil menanti kang Kentung aku teguk kopi
‘Tuk sirnakan rasa kantuk segarkan tubuh ini
Dari cuaca dingin nan mencekam gelap taguli
Aku dengar katak-katak bangkong  bernyanyi
Kidung nyanyian alam bahagiakan Ibu Pertiwi

Tepat pukul tiga lewat dua puluh Ketunggani 
Sipengojek yang selalu tepat pun datang pasti
Tiba di depan rumahku sudahlah siap menanti
Aku hampiri motor ojek dan segera naik pergi
Berangkat kerja laksanakan tugas profesi suci

Dibarengi guyur hujan yang  mulai kecil merinai
Dan hanya berpayung mantel hujan plastik mini
Maka berputar roda-roda motor beranjak pergi
Jalan kecil licin basah  dan becek  tetap dilalui
Ojek teruslah melaju di tengah jalan listrik mati

Persis di simpangan tiba-tiba motor oleng ke kiri
Dan terperosok di selok yang  airnya kotor sekali
Seragam sepatu baju tas celana basah tak terperi
Untung saja tiada luka di tubuh yang terasa nyeri
Padahal di dalam selok itu ada tertanam batu kali

Aku ikutlah bantu angkat motor ojek Ketunggani
Dari selokan kecil yang berair  kotor penuhlah tai
Sambil bersihkan baju  celana yang telah ternodai
Aku pun bertanya pada kang ojek si Kentunggani
Tentang sebab mengapa peristiwa itu bisa terjadi

Dengan ekspresi wajah yang nampaklah pucat pasi
Ketunggani menjawabnya penuh rasa takut ngeri,
“Entahlah pak, saya juga merasa heran sekali tadi,
Tiba-tiba saya lihat ada nenek-nenek menghalangi
Sambil rentangkan tangannya tunjuk arah ke kiri!”

Mendengar penjelasan dari Kang Ojek Kentunggani
Aku pun faham dan sadari dengan apa yang terjadi
Sebab peristiwa serupa aku pernah juga mengalami
Di waktu, jam, dan tempat yang sama  di daerah ini
Di jalan simpangan tiga tepat saat pukul  03:22 pagi

Kp Pangarakan, Bogor
Rabu, 10 Februari 2016 – 18:59 WIB  

Senin, 08 Februari 2016

“KUCINGKU SI MANIS BERNASIB TRAGIS” Karya : Ki Slamet 42

Sajak & Puisi Ki Slamet 42
Selasa, 09 Febuari 2016 - WIB

Image "Si Manis" (Foto: SP)
Si Manis
 
“KUCINGKU SI MANIS BERNASIB TRAGIS”
Karya : Ki Slamet 42

Di rumahku ada kucing jantan bernama si manis
Yang setahun lalu  kuambil di saat hujan gerimis
Di dalam selokan berair kotor yang berbau amis
Ngeang-ngeong iba  seperti suara bayi menangis
Mencari-cari  sang induknya yang matilah tragis
Digilas motor saat seberangi jalan sungguh miris

Si Manis berbulu kuning lembut,  lucu dan manis
Jika tidur maunya di kasur kamar tidur si Danis
Anakku yang marah jika kesenangannya digubris
Amat penyayang binatang  apa lagi pada si manis
Kucing yang cakap  menangkap tikus-tikus sadis
Yang selalu kerat karung beras  sampailah habis

Si manis seperti mengerti pada kemauan si Danis
Yang tak mau kamar tidurnya kotor berbau amis
Jika berak  dia langsung saja lari ke toilet Danis
Jilati bulu-bulunya hingga kembali nampak necis
Lalu berlari-lari kecil melompat kian kemari eksis
Pamerkan keberadaan dirinya yang miliki katarsis

Tetapi kucingku si manis sungguh bernasib tragis
Bernasib sama  seperti induknya yang tewas miris
Mati saat bertarung dengan musang pandan sadis
Di saat  melindungi ayam jago peliharaan si Danis
Lehernya luka menganga hampirlah  putus nyaris
Digigit si musang pandan  yang teramatlah bengis

Duka mendalam tiadalah terkira  Danis menangis
Gendong jazad si manis yang bernasib amat tragis
Lalu  galilah lubang kubur si manis dengan linggis
Di samping rumah persis di bawah pohon manggis
Yang berdaun lebat dan buahnya pun manis-manis
Selamat jalan kucingku yang lucu dan lugu si manis


Utankayu Selatan
Minggu, 08 Februari 2016 – 07:45 WIB