Tampilkan postingan dengan label Ekspresi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekspresi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juli 2016

JADILAH KITA SANG PENERANG Karya Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet : Sajak Puisi
Ki Slamet Priyadi - Minggu, 22:05 WIB

Image "Sang Penerang" (Foto: Google)
Sang Penerang
“JADILAH KITA SANG PENERANG”

Karya: Ki slamet 42

Ilmu adalah pelita dunia yang terangi hidup saat gulita
Singkaplah selimut kebodohan yang membeku di kepala
Maka galilah dan kaislah ilmu dengan segala daya upaya
Agar otak di kepala menjadi bisa timbulkan kilas cahaya
Pancarkan pelita penerang kegelapan di alam mayapada
Kepada manusia yang masih hidup di dalam gelap gulita 

Ilmu akan jadikan kita cerdas, pintar, dan berkharisma
Mata akan nampak tajam bersinar  pancarkan wibawa
Bicara penuh isi mengacu referensi dan bisa dipercaya
Tapi jika tak berbenteng iman bisa lari ke arah jumawa
Terpaku pada kesombongan yang semakin mengemuka
Tiada pernah mau menerima kebeneran di luar dirinya

Maka lambarilah atma dan rasa dengan ajaran agama
‘Tuk bentuk jiwa dan raga benderang nan bercahaya
Jadikanlah kita sosok sang penerang di alam semesta
Tiada berpamrih apa-apa kecuali ridho Allah semata
Sebab DIA-lah Sang Penguasa pemberi warna-warna
Yang mutlak menjastifikasi kepada hamba-hambanya

Maka jadilah sang penerang selama kita masih berjaya
Menjadi pelita yang cahayanya terangi gelapnya cuaca
Menjadilah sosok pemecah masalah  di antara sesama
Yang sapanya, sikap dan perilakunya sejukkan suasana
Bukanlah orang  yang  justru jadi pemantik  problema
Penyulut hingga  api besar berkobar membakar segala


Bumi Pangarakan, Bogor
Minggu, 03 Juli 2016 – 11:30 WIB

Jumat, 13 Mei 2016

DUA EXPRESI DI SABTU PAGI KARYA KI SLAMET 42

Blog Ki Slamet : Sajak dan Puisi Ki Slamet 42
Sabtu, 14 Mei 2016 - 10:23 WIB

Image "Ki Slamet Priyadi" ( Foto: SP )
Ki Slamet 42

“AWANG-AWANG TANPA LAWANG”
Karya : Ki Slamet 42

Saat tubuh rapuh tak bisa bergerak lumpuh
Berbaring di amben panjang berkasur lusuh
Sendiri rasakan sepi semua seperti menjauh
Segala daya yang dulu bisa kianlah merapuh
Pecahlah kemepyar buyar dan sukar disauh

Ketika rasa kantuk mengetuk kelopak mata
Kedua mata pun terpejam hilang segala rasa
Tidur mendengkur berselimut duka nestapa
Semua tak bisa dirasa meski dalam kata-kata
Dan ada air mata menetes di pipi tak terasa

Dalam tidur mendengkur mimpi pun datang
Bagai terbang di awang-awang tanpa lawang
Tiadalah ada yang ada segalanya sirna hilang
Hanya ada gumpalan angan di  awang-awang
Berarak berkejaran ngayang melayang-layang

Di balik angan ada sinar putih berpesan religi
Berwanti nasehati agar selalu ingat Ilahi Rabi
Melakukan Shalat wajib lima kali dalam sehari
Menunaikanlah zakat dan juga saling berbagi
Puasa di bulan Ramadhan jika mampu berhaji


Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 14 Mei 2016 09:23 WIB

Image "2 Cucuku" ( Foto : SP )
2 Cucuku yang lucu-lucu

“MENJELAJAH KATA UNGKAP CERITA”
Karya : Ki Slamet 42


Tepat pukul tiga di Rabu sore saat hendak sidik jari
Setelah tugas dampingi acara  Pelepasan Siswa-siswi
Dadakan instrumen tak berfungsi karena listrik mati
Terpaksa pulang  dengan sistem manual  tulis sendiri
Di jadwal hadir pulang yang disediakan KTU Sunardi

 Badan lelah pulang numpang mobil pak Diding Suardi
Ketua Panitia yang kinerjanya tiadalah diragukan lagi
Bersikap ramah bertanggung jawab bicara bobot berisi
Yang mengacu pada ajaran religi Islami dari Ilahi Rabbi
Tepat di depan UKI aku turun sambil ucap terimakasi

Berjalan di atas trotoar jalan yang terasa bising sekali
Lewati lorong terowong UKI dan pedagang lima kaki
Yang banyak berjejeran  berupaya keras mencari rizki
Demi menafkahi menghidupi keluarga anak dan istri
Yang sudah tentu di rumah mereka sedang menanti

Aku terus berjalan tuju lokasi mobil ompreng Ciawi
Duduk dekat pintu tengah mobil sudah penuh berisi
Setelah calo dan sopir car omperengan  bertransaksi
Berangkatlah mobil menuju kota Bogor lalu ke Ciawi
Di tengah jalan tol daerah Sentul macet membayangi

Setiba di perempatan Ciawi, aku turun berjalan kaki
Kepala sedikit pening melihat kendaraan ramai sekali
Lalu kunaiki mobil Elf omprengan jurusan Sukabumi
Yang melesat cepat,  merat zik-zak ke  kanan  ke kiri
Depan SPN Lido aku turun, sang ojek telah menanti

Sementara geliat hujan lebat belum jua mau berhenti
Ojek Tedi yang aku tumpangi begitu kencang berlari
Tuju rumah kecil mungil,  tempat keluarga berkreasi
Arungi bahtera rumah tangga, berkayuh Religi Islami
Yang mesti jadi energi motivasi kelola keluargaku ini

Setiba di depan rumah lima ribu rupiah ojek aku beri
Ketika  ketiga cucu-cucuku  cium tangan menyalami
Ada rasa haru bahagianya hati sungguh tiada terperi
Ketiga cucuku yang lucu-lucu dan sukalah menyanyi
Masing-masing aku gendong lalu keningnya aku ciumi


Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 14 Mei 2016 06:09 WIB

Jumat, 25 Desember 2015

"ATMA KEMBARA" KARYA : ki Slamet 42

Sajak dan Puisi Ki Slamet 42
Sabtu, 26 Deaember 2015 - 10:26 WIB

Image "Ki Slamet 42 (Foto: SP)
Ki Slamet 42
“ATMA KEMBARA”
Karya : Ki Slamet 42

Atmaku melayang kembara ke mana-mana
Terbang menelusuri alam  tiada bermakna
Terlelap panjang  beralas sutra dewangga
Mimpilah indah bersama para garwa-garwa  

Ketika rasa-rasa menggeliat menggoda jiwa
Maka  menebarlah  pancaran warna-warna
Pengaruhi noda-noda agar muncul ke muka
Renang di kubangan dosa nikmat sementara

Sukma jiwaku pun terasalah melayang-layang
Di alam mimpi seraut wajah pun membayang
Mendorong kuat hasrat jiwa yang kerontang
Terlelap di dunia gelap terus mabuk kepayang

Tubuhku terbelenggu terikat raga terlentang
Serasa jiwa menggeliat senang bukan kepalang
Seterusnya inginkan nikmat itu tiadalah hilang
Menyelimuti jiwa yang lelap di hitamnya kubang

Sadari apa yang terjadi aku pun merenung diri
Atmaku yang kembara  di alam indahnya mimpi
Yang masih terasa melekat di dalam kalbu hati
Mungkinkah bisa sirna dan tak muncul kembali

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 26 Desember 2015 – 08:05 WIB

Rabu, 23 Desember 2015

"MELANGKAH PASTI" Karya : Ki Slamet 42

Image "Ki Slamet 42 ( Foto: SP )
Ki Slamet 42

“MELANGKAH PASTI”
Karya : Ki Slamet 42

Meski beta hanya sebutir molekul di alam ini
Dan tiada bisa berbuat banyak untuk negeri
Tapi beta akan tetap melangkah dengan pasti
Berjalan di atas marga berpayung ajaran religi

Meski gerak langkah beta acap kali terhalang
Selalu saja datang cobaan yang aral melintang
Namun beta akan berupaya keras membentang
Segala macam onak duri yang datang merintang

Meski gerak langkah beta banyaklah ditentang
Kebenaran religi harus jadi dasar alas penerang
Dalam setiap langkah tak bolehlah terguncang
Hanyalah karena diganggu bahkan pun diserang

Meskipun raga beta mati jiwa perlaya sirna nyawa
Beta akan tetap terus melangkah bertekad baja
Tebarkan sebarkan dan pancarkan ujar-ujar kata
Mencurah hati maknai hidup dalam karya sastra

Bumi Pangarakan, Bogor
Kamis, 24 Desember 2015 – 05:08 WIB