Sabtu, 03 Oktober 2015

“PUISI SUNGAI KAWAT” Karya : Ki Slamet 42



( Cerita Rakyat Kalimantan Barat )

Ada sungai besar, panjang, lebar dan luas
Yang dikenal dengan nama sungai Kapuas
Sungai ini bercabang banyak bertuas-tuas
Salah satunya anak sungai berkawat emas
Mengapakah bernama sungai Kawat mas?
Marilah kita kupas lagi  dengan lebih luas

Letak Sungai berkawat mas ada terdapat
Di kota Sintang, masuk Kalimantan Barat
Lebihlah dikenal bernama,  Sungai Kawat
Di tepi sungai, ada keluarga tinggal dekat
Keluarga nelayan miskin yang  gagah kuat
Di Sungai Kawat itulah tempat ia bergiat

Suatu ketika,  sang nelayan pergi mancing
Tetapi  seharian tiada ikan mau berpaling
Pada kailnya  yang  diberi  umpan pancing
Namun,  tiada ia berputus arah berpaling
Teruslah bergiat panjang sungai dikeliling
Ia bertekad kembali adalah ikan  dijinjing

Saat Sang Surya condong ke  ufuk barat
Perahunya dikayuhnya dengan lebih kuat
Menuju ke hulu dengan berharap sangat
Umpan kail  dimakan ikan yang mendekat
Maka,  dayung perahu dikayuhnya cepat
Hingga sampai di teluk bertanah cokelat

Teluk itu ditumbuhi banyak pohon kayu
Dan  ikan-ikan banyak bersarang di situ
Nelayan gantilah umpan ikan  yang baru
Meskipun begitu, ikan masih tidak mau
Memakan umpan pancingnya yang baru
Sang nelayan merasa semakin lelah-lesu

Saat rasa kecewa,  putus asa dan marah
Mulai geliati rasa mengalir di arus darah
Ia memutuskan untuk kembali ke rumah
Tiba-tiba pancing terasa bergerak lemah
Ia terus ulur tali kail, biarkan ikan gasah
Tarik pancing,  hingga sampai ke  tengah

Ketika  tali kail pancing  hampirlah habis
Nelayan sentak pancing,  sambil meringis
Ada ikan besar nyangkut kail tajam tipis
Meronta-ronta nampak seperti menangis
Serasa iba ikan dilepas dengan hati miris
Ikan balik ke sungai,  ekornya kibas-kibis

Saat cuaca gelap  menjalar rayapi malam
Nelayan lempar pancing ke sungai dalam
Ikan yang tadi tertangkap tercengkeram
Kembali makan umpan pancing diterkam
Tali ditarik  ke  dasar sungai yang dalam
Diikat pada kawat di bawah batu hitam

Saat temali pancing tak lagi ditarik ikan
Nelayan tarik tali kailnya perlahan-lahan
Tetapi terasa seperti ada yang menahan
Ia tarik lagi talinya  meski ada kerisauan
Sentak temali kail ada benda berkilauan
Yang terbawa dengan warna kekuningan

Ternyata benda itu temali kawat panjang
Cakaplah nelayan tatap kawat dipandang
Nyata kawat itu merupakan mas selayang
Berkilauan disinari cahaya bulan seloyang
Hati nelayan betapa suka bukan kepalang
Dapat kawat mas hidup pasti kan senang

Nelayan tak mau henti  tarik kawat emas
Meski perahunya sesak penuh mas kemas
Meskipun ada suara yang menggema luas
Berilah tahu agar hentilah mengais-nguas
Namun nafsu tamak lah kuasai hati buas
Ia tak sekali mau peduli suara kasih belas

Maka,  perahunya mulai  oleng dan goyah
Tapi hati masih dibelenggu nafsu serakah
Dikuasai nafsu, ambisi kehidupan mewah
Maka bareng ketamakannya, tengelamlah
Ia,  bersama perahu dan harta berlimpah
Tenggelam,  jumpai ajalnya yang tergebah

Sampai sekarang, itu anak sungai Kapuas
Yang kandung kisah etika berwawas luas
Agar tiada mengumbar hawa nafsu buas
Hawa nafsu tamak, serakah  yang  ganas
Menerkam geliat rasa kasih penuh welas
Dikenal dengan nama Sungai Kawat Mas


Sabtu, 03 Oktober 2015 – 18:31 WIB
Ki Slamet 42 di Pangarakan, Bogor

Kamis, 24 September 2015

“KISAH MELAS SI RAJA CULAS” Karya : Ki Slamet 42


“ KISAH MELAS SI RAJA CULAS ”
Karya : Ki Slamet 42

Berkisah yang empunya cerita, bahwa konon dahulu kala
Ada kerajaan yang aman, tenteram dan damai ba’ swarga
Tarberlahnamo namanya,  yang diperintah raja bijaksana
Yang teramat cinta, sayang dan memperhatikan keluarga
Miliki beberapa putera, dan puteri dari permaisuri jelita

Tetapi,  kebahagiaan keluarga raja itu  hanya sementara
Tiadalah  berlangsung lama,  karena raja mudah tergoda
Oleh kemolekan dan kecantikan wajah gadis muda belia
Yang dijumpa di tengah jalan saat hendak berburu rusa
Di belantara,  tiada jauh dari Tarberlahnamo sisi Utara

Sebab kecantikjelitaan serta kelembutan bertutur sapa
Dari sang gadis muda belia,  sang Raja lupalah segalanya
Tiada banyak kata, raja persunting menikahi gadis muda
Meski sang permaisurinya dan semua putera,  puterinya
Tiadalah senang menentang berang dengan amat murka

Tiga purnama berlalu maka ratu kedua raja hamil muda
Demi ketahui hal ini,  Sang Raja sama sekali tiada suka
Tak mau ambil resiko dengan kemarahan ratu pertama
Dan, putera-puterinya, timbullah sifat culas sang Raja
Maka, muncul niat jahat untuk singkirkan Ratu kedua

Suatu ketika, Sang Raja mengajak Ratu kedua tamasya
Naik perahu arungi sungai yang ada di dalam belantara
Saat Ratu Kedua menikmati keindahan alam panorama
Tiba-tiba Sang Rajapun mendorong tubuh Ratu Kedua
Hingga tubuhnya jungkal jatuh ke dalam sungai calaka

Ratu kedua menjerit minta tolong,  Raja diamkan saja
Meski hatinya iba,  namun tetap tak mengacuhkannya
Sang Raja cuma bisa menatap tubuh Sang Ratu muda
Yang megap-megap terbawa arus deras sungai Calaka
Hingga terus hanyut ke hilir di alam hutan belantara

Dikisahkan seorang pemancing ikan di Sungai Calaka
Yang melihat dan segera cepat menolong Ratu kedua
Yang dicelaka oleh Raja Tarberlahnamo Si culas Raja
 Sebab tak mau retak hubungan harmonisasi keluarga
Pecah dengan Ratu Pertama dan putera – puterinya

Singkat cerita di tengah hutan di hilir Sungai Calaka
Hidup tentram, rukun,  damai satu keluarga bahagia
Mereka hidup hanya bertiga saja, seorang kakek tua
Dan seorang ibu separuh baya, pun seorang pemuda
Yang nampak tampan,kuat,kokoh dan gagah perkasa

Mereka si Pengail, Ratu Kedua, dan seorang pemuda
Yang tiada lain, putera Raja Tarberlahamo  bernama
Aji Bonar, yang tumbuh jadi pemuda tampan perkasa
Bermain gasing, memancing ikan Aji Bonar amat suka
Dalam setiap pertandingan gasing ia selalulah berjaya

Pintaran Aji Bonar main gasing terdengar ke teilnga
Si Putra Raja Tarberlahnamo yang terkenal jumawa
Yang juga gemar main gasing  dengan taruhan benda
Demi mendengar kabar,  Aji Bonar selalulah berjaya
Putera raja pun undang Aji Bonar datang ke istana

Aji Bonar tak mau buang kesempatan bertemu muka
Dengan putera Raja Tarberlahnamo, sebab itu maka
Ia segeralah datang dengan rasa riang ke istana raja
Kabulkan undangan tanding gasing sang putera raja
Yang memang sudah tak sabar menantinya di Istana

Kehadiran Aji Bonar di istana disambut putera raja
Meski nampak ceria lakunya seperti meremehkannya
Namun Aji Bonar tiadalah mau pedulikan itu semua
Ia berbulat tekad untuk kalahkan gasing putra raja
Yang selalu berseloroh tak ada bisa mengalahkannya

Singkatlah kisah, bersapa katalah yang punya cerita
Di dalam pertandingan itu, gasing Aji Bonar berjaya
Kalah dalam adu gasing,  buat hati sang putera raja
Makin penasaran dan tak menjadikannya untuk jera
Meskipun kalahan demi kalahan teruslah dialaminya

Dari bertaruh kecil hingga bertaruh besar taruhnya
Gasing Putra Raja Tarberlahnamo, tak  pernah bisa
Kalahkan gasing Aji Bonar,  yang  terus saja berjaya
Putra Raja pun,  kian penasaran atas  kekalahannya
Perasaan malu  berkecamuk,  gelorakan amarahnya

Suatu saat, Aji Bonar ditantang Sang Putera Raja 
Tanding gasing ulang disaksikan seluruh rakyatnya
Dalam rangka, menentukan harkat, martabat Raja
Aji Bonar pun ke pondoknya di hilir Sungai Calaka
Ajak ibu,  pengail  ‘tuk turut ke istana bersamanya

Pada hari yang ditentukan,  rakyar datang ke sana
Gelanggang tanding gasing di lapangan alun istana
Antara dua saudara,  putera Tarberlahnamo  raja
Aji Bonar dari Sungai Calaka,  dan Putra Jumawa
Disaksikan pula sang permaisuri dan Si Culas Raja

Dengan sikap emosi dan angkuhnya Putra Jumawa
Umumkan kepada semua rakyat yang hadir di sana 
Bahwa, jikalau Aji Bonar bisa menang dari dirinya
Di dalam pertandingan beradu gasing kali ini maka
Akan beri kerajaan dan akui Aji Bonar sebaga raja

Ditandai suara pukulan bende  di alun-alun istana
Dimulailah tanding gasing Bonar melawan Jumawa
Gasing Aji Bonar berputar cepat,  kuat bertenaga
Demikian pula, dengan gasing milik Putra Jumawa
Tapi, gasing Aji Bonar ternyata lebih kuat berjaya

Gemuruh sorak-sorai di gelanggang alun-alun istana
Sambut gembira atas kemenangan Aji Bonar Putra
Sementara Putra Jumawa, sirnalah keangkuhannya
Akui kekalahannya dari Aji Bonar yang sebenarnya
Bukanlah lain,  dia  adalah saudara seayahnya juga

Melihat, menyaksikan sendiri  kekalahan Putranya
Raja Takberlahnamo tak lagi bisa berbuat apa-apa
Ia pun turut ikhlasrelakan Negeri dan kerajaannya
Diberikan pada Aji Bonar  putera dari ratu kedua
Yang Dibuangnya dulu saat hamil di Sungai Calaka

Pada hari itu pula Aji Bonar diangkat menjadi raja
Kerajaan Takberlahnamo diperintah raja bijaksana
Rakyatpun hidup rukun, damai, makmur sejahtera
Meski Aji Bonar telah menjadi raja yang berkuasa
Ia tetap berprinsip, persatuan harus paling utama

Bumi Pangarakan, Bogor
Kamis, 24 September 2015 – 09:17 WIB