Sabtu, 06 Juni 2015

"BALADA RUMAH KOSONG" Karya: Ki Slamet 42

Ki Slamet 42

"BALADA RUMAH KOSONG"
Karya: Ki Slamet 42

Dalam rumah kosong yang dua tahun tiada berpenghuni
Kandung kisah misteri prilaku keji sang suami pada istri
Sebab emosi tak bisa dikendali hilang akal dan lupa diri
Lalu embunuh karena sang istri berbuat selingkuh pasti
Dengan kerabat keluarga yang bukan lain kakak sendiri

Saat tengah malam dari dalam rumah kosong itu muncul
Ke luar dua bayangan hitam  yang saling berpeluk gumul
Tertawa mengikik melayang berselendangkan kain kemul
Motif burung kukuk beluk di ranting pohon bergandul
Melayang-layang lenyap di balik gumuk semak gerumbul

Suatu ketika, di tengah malam Jumat kliwon nan kelam
Dari dalam rumah kosong berhantu dua jahanam hitam
Terdengar jeritan menyayat  menguak kesunyian malam
Seperti suara lolong anjing sekarat nyawa redup redam
Seperti bunyi genderang kematian ritual sesaji gendam

Aku intip dari jendela kamar bilik bambu warna gading 
Bulu kuduk bergidik, badan terasa bergetar merinding
Nampak terlihat dua hantu jahanam keluar bersanding
Dari kedua gigi taringnya mengucur darah hitam keling
Yang bau menebar di depan teras rumah kosong hening

Kedua mataku jadi tak bisa berpejam tiada rasa kantuk
Masih terlintas di mata kedua hantu jahanam terkutuk
Penghuni rumah kosong itu berkelebat tak berpungguk
Pagi hari ditemukan mayat, lehernya ada luka berlekuk
Bagai bekas luka gigit  dua burung hantu kokok beluk

Selidik punya selidik,  ternyata mayat itu adalah lelaki
Yang terpaksa membunuh sebab dikhianati sang isteri
Yang berselingkuh dengan  kakak kandungnya sendiri
Hingga dia emosi dan lupa diri lakukan perbuatan keji
Dengan membunuh sang istri, dan saudaranya sendiri

Konon dua hantu jahanam penghuni rumah kosong itu
Masih suka menampakkan diri dan muncul menggangu
Siapa saja yang tak dikenal dan kebetulan lewat di situ
Pada setiap malam Jumat kliwon dan di malam Minggu
Tapi yang kualami hantu itu tak pernah menggangguku


Bumi Pangarakan, Bogor
minggu, 07 Juni 2015 – 07:04 WIB

Jumat, 05 Juni 2015

“SUMERINGAH DALAM KONA’AH” Karya: Ki Slamet Priyadi 42


“SUMERINGAH DALAM KONA’AH”
Karya: Ki Slamet Priyadi 42

Betapa bahagia bisa tersenyum sumeringah
Karena di pagi hari ini, cuaca begitu cerah
Sang Dewa Surya nampak berwajah ramah
Bersinar kemilauan sapa bumi ranah tanah
Sang Dewi Pertiwi pun jadi merona wajah
Geliat terpikat tersenyum tertawa meriah

Sementara keadaan suasana dalam rumah
Harmoni keluarga yang sakinah warahmah
Terus senandungkan kidung-kidung indah
Ekspresikan dan aplikasikan sikap konaah
Ikhlas beraktifitas hanyalah karena Allah
Ikhlas menerima susah hanya karena Allah

Ikhlas dan kona’ah adalah perilaku ibadah
Lakukan segala amalan cuma karena Allah
Ikhlas dalam menerima bermacam musibah
Karena di dalam musibah pasti ada hikmah
Ikhlas di  dalam menerima rahmah hidayah
Semata harap ridhaNya dan jiwa berserah

Akhirnya, kusemai kona’ah dalam marwah
Jadikan harta berlimpah untuk beribadah
Selalu sumeringah di  dalam sikap kona’ah
Singgah menebar dan memancar di wajah
Menjadi energi yang kuat ‘tuk melangkah
Dalam arungi kehidupan yang serba salah

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 06 Juni 2015 – 11:50 WIB

“ADA ULAR HIJAU DI RANTING CINGCAU” Karya: Ki Slamet Priyadi 42

Image "Ular Hijau"
Ular Hijau

“ADA ULAR HIJAU DI RANTING CINGCAU”
Karya: Ki Slamet Priyadi 42

Ada ular hijau menjalar melingkar di ranting cingcau
Merambat ke dalam rumah lewat jendela kayu bakau
Menyusup ke dapur seikat kacang panjang dijangkau
Samarkan tubuhnya sehingga tak bisa segera dihalau
Sebab kacang panjang dan ular sama berwarna hijau

Saat istriku ke dapur hendak rajang kacang panjang
Untuk buatkan aku sayur kesukaan, tumisan kacang
Ia berteriak kaget panggil aku dua kali akang, akang!
Aya oray aya oray! Ada ular hijau di kacang panjang!
Aku pun lompat sebat, cepat ambil golok di ranjang

Ku tatap oray sambil baca mantra aji penangkal ular
“Cetkirono, kongkone Dewi Awa, tawa, tiwi, tawar”
Sang ular hijau pun turun perlahan menjalar ke luar
Tetapi aku berkeputusan tak mau ambil resiko besar
Maka kutebas tubuh sang ular sehingga menggelepar

Aku ambil tubuh ular, kubawa ke luar lalu aku bakar
Menebar aroma prengus bau hangus tubuh sang ular
Dari tubuh sang ular hijau yang mati terbakar keluar
Asap berwarna hitam kehijauan, mengepul melingkar
Seperti berkata penuh amarah berpesan kasar gahar

“Tuan begitu kejam terhadap sesama makhluk hidup
Padahal tubuhku ini sudah renta dan mulai meredup
Bisa dan racunku pun sudah hilang, lenyap terhirup
Dihisap manusia pembantai  yang hatinya  tertutup
Oleh nafsu tamak yang selalu ingin semuanya diraup

Bumi Pangarakan, Bogor
Kamis, 04 Juni 2015 – 22:49 WIB

Rabu, 03 Juni 2015

“MANTRA AJIKU PANCASILA SAKTI” Karya: Ki Slamet 42

 
PANCASILA SAKTI
“MANTRA AJIKU PANCASILA SAKTI”
Karya: Ki Slamet 42

Aku miliki lima pusaka mantra aji Pancasila sakti
Yang kokoh bersemayam di jantung sang Rajawali
Kepakkan sayap Garuda mengayomi bumi pertiwi
Gebyarkan nilai budaya ramah sumeringah negeri
Yang mampu mengguncang seluruh persada bumi

   Mantraku digjaya perkasa nan sakti mandraguna   
Garuda Pancasila sakti yang bhineka tunggal ika
Yang dijadikan dasar Negara Republik Indonesia
Di dalam berupaya membangun negeri Nusantara
Membangun bangsa yang berdaulat dan merdeka

Mantra ajiku cuma satu hanya Garuda Pancasila
Yang  sayapnya  panjang terbentang seluas dunia
Bunyi gaung suaranya getarkan alam marcapada
Yang kesaktiannya terbukti ampuh jaya kawijaya
Jadi pedoman bermasyarakat berbangsa bernegara

Berkiprah di  dalam  aktifitas perilaku Ketuhanan
Berkiprah di dalam aktifitas bangun Kemanusiaan
Berkiprah dalam aktifitas  bangun rasa Persatuan
Berkiprah dalam aktifitas bangun jiwa Kerakyatan
Berkiprah di dalam aktifitas bangun rasa Keadilan

Bumi Pangarakan, Bogor
Selasa, 02 Juni 2015 – 18:03 WIB