Sabtu, 28 Februari 2015

"INSPIRASI DARI KALI SADANE" Karya Slamet Priyadi


INSPIRASI DARI KALI SADANE
Karya: Slamet Priyadi

Gemericik air Sungai Sadane bunyi kemerisik daun  bambu
Gema  suara serangga-serangga malam lantunkan lagu-lagu
Con fiesto dendang riang  harmoni tembang malam merayu
Kuak sepi  di malam nan sunyi berhias polah  rayu kemayu
Melalui jalan lingkar berliku-liku yang bertangga batu-batu
Kulangkah kaki  turuni  jalan tepi Kali Sadane yang kelabu
Di  atas sebongkah batu hitam legam sebesar badan kerbau
Aku duduk terlentang  tengadahkan wajahku ke langit biru

Dan, di  atas  langit sana ku lihat jutaan bintang-kemintang
Sang  Dewi Malam  dengan cahaya yang terang-benderang
Sejukkan hati  nan gundah, tenangkan pikiran nan bimbang
Lenyapkan  segala bara rasa amarah berang alang-kepalang
Terhadap  manusia-manusia  munafik,  pongah dan serakah
Seperti  nyamuk-nyamuk yang terus menggigit hisap darah
Tiada  mau berhenti sebelum perutnya membuncit merekah

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 16 Maret 2013 - 21:45 WIB

Jumat, 27 Februari 2015

"NYAI, BABEMU MEMANG GALAK !" Karya Slamet Priyadi


BABEMU MEMANG GALAK
(Kenangan 1972)
Karya: Slamet Priyadi 2012

Aku ungkap cerita awal pertama  ini kisah
Ketika  kita  ketahuan  tertangkap  basah
Di  saat kita pacaran ungkap keluh-kesah
Di tengah-tengah rimbun kebun singkong
Kebun milik babemu, Haji Ahmad Kokong
Yang terkenal galak di se antero kampong

Aku  jadi  lari  kencang  lintang  pukang
Berlari gancang pun tunggang langgang
Lompati jejeran pohon-pohon singkong
Yang  panjang  melintang  menghalang
Nafasku  jadi terasa kempis  kembang

Dari jauh aku melihat telingamu dijewer
Awar-awer  sarung bapakmu jadi ngawer
Kau pun berteriak meringis lalu menangis
Sementara itu aku hanya bisa melihat miris
Sambil  bersihkan  kotoran di pangsi jangkis
Yang baru saja dibelikan emak di pasar Kamis

Nyai,  Babemu  memang  sungguh  teramat  galak
Bicaranya keras menyalak dengan mata terbelalak
Melotot  tajam  seperti  harimau  mau menerkam
Terasa  mencengkeram  membuat  hatiku  seram

Pangarakan, Bogor
Selasa, 06 Mei 2014


SEBIDUK CINTA
(Kenangan 1974)
Karya: Slamet Priyadi 2014

Aku bukanlah kamu, kamu bukanlah aku
Aku  adalah aku,  dan kamu adalah kamu
Sebelum kita ada, aku tak ada kamupun tak ada
Kemudian  kita  ada,  aku  ada  kamu  pun  ada

Lalu kita berjumpa tapi tak pernah tegur sapa
Saat  aku  ke  sana  justru  kamu  kemari
saat  aku  ke  sini  justru  kamu  ke  sana

Lalu kita  pun  jadi  ke  sana  dan  kemari
Ke sini  dan  ke  sana  saling  berputar
Saling berbalik berbalik dan berputar
Saling  berputar  dan  berbalik

Pada akhirnya kita  saling bicara
Bersentuh  kata  bersentuh  rasa
Bersentuh jiwa dan bersentuh raga
Bersama-sama dalam biduk asmara
Bersama-sama arungi samudra cinta

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 08 Maret 2014

Senin, 23 Februari 2015

"SKETSA ALAM MARCAPADA" By Slamet Priyadi

Ular Kobra masuk rumah (Foto: SP)
Ular Kobra 1.2 meter masuk rumah
Saat  aku  baru bangun dari lamin amben panjang
Aku tatap jendela rumah kayunya nampak usang
Nun di luar sana  di tanah kosong kebun belakang
Di antara ranting-ranting pohon berdaun  rindang
Burung-burung kecil kutilang bersenandung riang
Terbang melayang-layang ungkapkan rasa senang
Sementara sinar Sang Surya pagi semakin terang
Aku lihat ada seekor ular kobra  menjalar tenang
Sergap sepasang tikus  dengan  lahap  dan garang
Tikus-tikus  gorong yang baru  ke  luar dari lubang
Setelah  nikmati birahi tak  nyana nyawa melayang
Ular kobra  menjalar sembunyi  di gerumbul ilalang
Aku masih tetap menatap kebun dari balik jendela
Menerawang jauh kaji segala peristiwa alam maya
Tentang sketsa garis kehidupan di alam marcapada
Yang penuh dengan romantika bahagia dan nestapa
Yang penuh dengan lara, suka, senang dan samsara
Yang  berputar datang silih berganti hiasi dunia fana
Saat Mentari  meninggi pukul dua belas tengah hari
Dan sinarnya tembus kaca jendela bingkai kayu jati
Yang panasnya terasa  di  kepala hingga jemari kaki
Akupun segera beranjak lalu pergi ke  kamar mandi
Bersihkan segala kotoran yang melekat di dalam diri
  Bersihkan segala kotoran yang melekat di dalam hati  
Sabtu, 31 Januari 2015 – 10:20 WIB
Slamet Priyadi
Di Kp. Pangarakan, Bogor

"OJO DUMEH!": "SKETSA ALAM MARCAPADA" By Slamet Priyadi: Ojo Dumeh - Sabtu, 31 Januari 2015 - 11:23 WIB Ular Kobra 1.2 meter masuk rumah Saat   aku   baru bangun dari lamin amben pan...

SANGKAN PARANING DUMADI Oleh: Slamet Priyadi


SANGKAN PARANING DUMADI
Oleh: Slamet Priyadi

Dari  kehampaan  kegaiban  alam  kelanggengan
Sangkaning dumadi awalnya kisah kamanungsan
Lahirkan aku pancer jiwa sukma jelma manusia
Lewat gelora supiah pejantan dan perempuan
Lewat  anasir alam air, api, tanah, dan udara
Lalu langlang kembara ke alam marcapada

Bersamaku kakang kawah, daging dan darah
Bersamaku  adi ari-ari  yang menjadi marwah
Segala daya kekuatan rohaniah dan jasmaniah
Nafsu  aluamah,  amarah,  supiah,  mutmainah
Dan,  mulhimah  yang  menjadi  pemberi  arah

Dalam  diriku  ada  sifat  dan  watak dasamuka
Tamak,  rakus,  serakah  penuh  angkara  murka
Berangasan, merasa paling kuat sakti dan digjaya

Dalam  diriku  ada sifat dan watak Kumbakarna
Tak  mau  mendengar  merasa  paling  benar
Penuh  nafsu  amarah,  tak mau  mengalah

Dalam diriku pun ada sifat dan watak Sarpakenaka
Utamakan nafsu birahi libido tak terkendali
Seperti Begawan Wisrawa kepincut Dewi Sukesi

Dalam  diriku  juga  ada  sifat dan watak Wibisana
Penuh dengan kejujuran, kebenaran, dan kesucian
Tolak  kejahatan,  keburukan,  dan ajak  kebaikan

Sekali  waktu  sukmaku,  jiwaku  adalah milik aku
Sekali  waktu  sukmamu,  jiwamu  adalah  milikmu
Sekali waktu sukma kita, jiwa kita adalah milik kita

Dan,  pada  saatnya  kelak,
Sukmaku, sukmamu, sukma kita semua
Jiwamu,  jiwaku,  dan  jiwa  kita semua
Akan menuju ke sana, kembali keharibaan-Nya
T u h a n . . . . .

Bumi Pangarakan, Bogor
Jumat, 30 Mei 2014 – 17:22 wib

Minggu, 22 Februari 2015

NEGARAKU, TETAP JAYALAH SELAMANYA! Karya : Slamet Priyadi


NEGARAKU, TETAP JAYALAH SELAMANYA!
Karya :  Slamet Priyadi

Awan-awan mendung layang berarak di puncak gunung
Bersayap bulu-bulu hitam kelabu tanda alam berkabung
Derai linangan air mata terus saja netes tak bisa diurung
Sebab orang-orang kecil masih keras menjerit  meraung
Dimangsa buasnya hukum rimba terbelenggu terkurung
Dalam neraka kemelaratan yang terasa semakin kadung

Sementara  hutan-hutan di bukitpun semakin kerontang
Dibalak oleh pemangsa galak ditebang pemangsa garang
Yang  tak henti-henti  menyerbu  serang malah bersarang
Di balik  gumuk belukar, rimbunnya hutan berdaun uang
Bergelimang kemewahan bersuka ria bersenang-senang
Berenang di kolam air matanya orang-orang yang malang

Di mana-mana, di sana-sini, di sini-sana semua sama saja
Berlomba-lomba rebutkan kursi jabatan utama penguasa
Demi raih  ambisi kedudukan  jual muka dan etika tak apa
Mendiskredit, ungkit-ungkit kesalahan adalah pilihan cara
Yang penuh  antrak-intrik,  taktis, strategis, etis  berlogika
Jadi ricuh, kacau-balau, awur-ngawur pun gegap-gempita

Demonstrasi  di  sana-sini  adalah  gelombangnya revolusi
Ada yang termotivasi murni, ada pula yang terkomersialisasi
Demonstrasi murni bertujuan suci perlu ditanggapi dan diapresiasi
Demonstrasi yang penuh komersialisasi bertujuan untuk makarisasi
Perlu ditumpas dan dibasmi sebab bikin negeri kacau tak damai lagi
Demi  persatuan,  kesatuan  bangsa dan Negara Republik Indonesia
Yang berlandaskan PANCASILA dan UUD 45 Berlambang GARUDA
Selamatkan  Bangsaku,  selamatkan  Negeriku,  selamatkan  Negaraku
Republik  Indonesia  Semoga  Tetaplah  Jaya Selamanya!

Minggu, 15 Februari 2015 – 11:11 WIB
Slamet Priyadi
Di Kp. Pngarakan, Bogor