Jumat, 01 Juni 2018

Pesan Damai Dedie Rachim, Berbeda Pilihan Tapi Tetap Jaga Kerukunan

Ki Slamet Blog - Sajak Puisi Ki Slamet 42
Sabtu, 02 Juni 2018 - 09:11 WIB

Image "Pesan Damai Dedie Rachim" (Foto: hallobogor.com)
Pesan Damai Dedie Rachim
Hallobogor.com, Bogor – Kamis, 29/3/2018|10:30 WIB – Calon Wakil Wali Kota Bogor nomor urut 3, Dedie A Rachim inginkan kontestasi pemilihan kepala daerah di kota hujan ini berjalan dengan damai. Hal itu dikatakan lantaran belakangan kerap terjadi peristiwa ujaran kebencian (hate speach) melalui media sosial.

Menurut mantan pejabat Komisi Pemeberantasan Korupsi (KPK) itu, sejak awal ia bersama pasangannya, Bima Arya telah berkomitmen untuk menjaga kondusifitas selama proses kampanye berlangsung. Dedie memaklum jika masayarakat mempunyai pandangan tersendiri terhadapa paaangan calon kepala daerah. 

Oleh sebab itu, ia meminta agar seluruh warga Kota Bogor tetap menjaga kerukunan selama proses kampanye yang berlangsung hingga akhir Juni mendatang. 

“Saya dan Pak Bima menginginkan proses Pilkada berjalan dengan damai. Memang pencoblosan masih lama, yaitu tanggal 27 Juni. Selama proses ke pencoblosan ada kampanye, nah mudah-mudahan semua warga Kencana RW 09 melaksanakan kegiatan itu dengan damai, meskipun berbeda pilihan namun harus tetap rukun dan kondusif untuk menjaga silaturahmi,” ucap Dedie dihadapan puluhan warga Kencana, RW 9, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Rabu (28/3/2018) petang.

Menurut Dedie, dirinya bersama pasangannya yakni Bima Arya sejak awal telah membuat komitmen kesepakatan selain dari pada kampanye damai. Untuk melancarkan proses tersebut, ia tak ingin warga masyarakat terpengaruh oleh ujaran-ujaran kebencian yang belakangan ini muncul di media sosial.

“Saya dan Pak Bima sudah menandatangani kesepakatan-kesepakatan. Selain proses kesepakatan kampanyenya yang damai, kami memqng tidak saling membuat hatespech (ujaran kebencian). Jadi ini yang paling penting. Pimpinan itu harus bisa menjaga kondusifitas seluruh warga. Tentu harus juga bisa diikuti oleh pasangan calon lain. Saya mengimbau kepada semuanya udah, jangan ada ujaran-ujran kebencian. Karena perbedaan itu merupakan karunia. Jangan gara-gara berbeda warga jadi gak rukun,” papar Dedie.

Selian ujaran kebencian, Dedie juga mengimbau kepada warga agar tidak terayu oleh politik uang, berbagi sembako, atau sogokan lainnya. Sebab, hal itu tentu akan mencederai proses daripada pesta demokrasi di Indonesia.

“Nah kebetukan ada dari Panwaslu. Jadi dalam proses kampanye saat ini telah diatur oleh pemerintah dengan sedemikian rupa agar tidak terjadi adanya politik uang. Jadi semua Paslon kita harapkan hanya menjelaskan tentang visi misinya, tentang prestasinya. Jadi bukan karena ada sesuatu imbalan dibalik itu,” tandasnya. (cep)

S u m b e r  :
Hallobogor.com 
Bogor – Kamis, 29/3/2018|10:30 WIB 

Kamis, 31 Mei 2018

“PANCASILA DIGJAYA” Karya Ki Slamet Priyadi

Ki Slamet Blog - Sajak Puisi Ki Slamet 42
Jumat, 01 Juni 2018 - 07:40 WIB


Image "Pancasila Digjaya"

“PANCASILA DIGJAYA”
Karya: Ki Slamet Priyadi

Meski aku berulang kali jatuh, dan jatuh lagi
Aku akan berupaya bangun, dan bangun lagi
Aku tak akan mungkin  tinggalkan negeri ini
Karena ini negeriku  yang teramat  aku cintai

Siapalah saja yang ingin menggarong garang
Aku akan bertaruh nyawa menyerah pantang
Biarlah darahku tertumpah tergenang-genang
Biarlah nyawaku meregang jiwaku melayang

Ini Indonesiaku, ini Bangsaku, ini Negeriku
Dan ini tumpah darahku janganlah diganggu
Biarkan mereka sanak-kadangku berperilaku
pabila diganggu aku tak akan bertopang dagu

Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Dia itu Beta
Apapun bentuk ronrongannya beta perisainya
Beta sakti dan digjaya bermerah putih pusaka
NKRI itu harga mati, jaya, jaya lah Indonesia!

Jumat, 01 Juni 2018
( Dibuat dalam rangka memperinagati hari lahirnya Pancasila )
 

Rabu, 23 Mei 2018

"AKU TAK MAU MEROKOK LAGI" By Ki Slamet 42

Ki Slamet Blog - Sajak Puisi Ki Slamet 42
Kamis, 24 Mei 2018 - 09:13 WIB

Image: "Drs. Slamet Priyadi" (Foto : SP )
Ki Slamet 42


“AKU TAK MAU MEROKOK LAGI”
Karya Ki Slamet Priyadi

Sungguh aku tiadalah mau merokok lagi
Sebab akibatnya sudah kurasakan sendiri
Sembur-muntahkan darah segar berkali-kali
Hingga paru-paruku jadi bolong ngeri sekali
Sungguh itu telah membuatku jadi takut mati

Menyadari dosa-dosaku belum jua tertutupi
Dan masih saja terus digeluti rasa takut mati
Maka dari itu, akupun cepat segeralah pergi
‘Berobat ke rumah sakit Paru pulang-pergi
Terus saja selama tujuh bulan tiadalah henti

Meski kini paru-paruku sudah pulih kembali
Aku masih harus kontrol satu minggu sekali
Karena pengaruh obat paru yang kukonsumsi
Jadi timbul fleg hitam di sekujur tubuh ini
Di wajah, di badan, di tangan dan di kaki

Ya, sekarang aku tiadalah mau merokok lagi
Mudah-mudahan merokokku total berhenti
Aku berterimakasih kepadaMu Ya Allahu Rabbi
Karena  telah beri kesembuhan pada hamba ini
Hingga berkesempatan ‘tuk merajut hidup lagi       

Medio 24 Mei 2018 – 08:32 WIB

Image:"Kau Garuda Pancasilaku" (Foto: Google)
Kau GarudaPancasilaku

KAU“GARUDAPANCASILA”KU
Karya Ki Slamet

Kau Rajawaliku, kau Garudaku
Perwira, digjaya nan gagah perkasa
Terbang melayang di angkasa raya
Kepakkan sayap menguak marca
Sekuat, sekeras guntur kilat pertala
Gelegarkan, gemakan Pancasila
Gaungkan Bhineka Tunggal Ika


Kau Rajawaliku, kau Garudaku
Kini tak gagah dan perkasa lagi
Bintangmu nyaris tak berlima segi
Bantengmu pun seakan tak bertaji
Beringinmu pun tak rimbun lagi
Padi kapasmu pun tiada bersemi
Dan, Untaian Rantai satu pengikat
Pun kianlah rompal berselimut karat
Menanggung beban berat kian sarat


Kau Rajawaliku, kau adalah Garudaku
Tunjukkan digjayamu keluarkan daya saktimu
Kepaklah sayapmu terbanglah tinggi-tinggi
Angkatlah bebanmu kuaklah mega-mega
Untuk melayang gagah menembus angkasa
Kepaklah sayap Pancasila seluas jagad raya
Agar dunia tahu bahwa kita masih perkasa
Ya, kita semua masihlah perkasa


Ki Slamet Priyadi
Kp. Pangarakan-Bogor

Kamis, 03 Mei 2018

“DINAMIKA POLITIK JELANG PILPRES” Karya Ki Slamet 42

Sajak Puisi Ki Slamet 42
Kamis, 03 Mei 2018 - 09:08 WIB

SANGKUNI

“DINAMIKA POLITIK  JELANG PILPRES”
Karya Ki Slamet 42


Jelang Pilpres ditahun  dua ribu  sembilan belas

Suhu politik negeri semakin gerah kian memanas

Antar pendukung saling cela tak lagi kenal batas

Berkata kotor, sumpah serapah yang tak pantas
 
Memuja dan menyanjung kandidat yang didukung
Gunakan intrik,  strategi dan  taktik  menggulung
Kampanye hitam, survey palsu semuanya dipulung
Tuk kemenangan sang kandidat agar menjadi ulung 
 
Para Carmuka cari muka bermuka dua di mana-mana
Bersikap Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa
Padahal mereka berwatak  Sangkuni  pengadu domba
Berantrak-intrik, kutak-katik mencari jabatan semata

Semua merasa paling pakar, paling pintar, paling benar
Pun para purnawirawan, mantan jendral, begitu tegar 
Kokoh berseloroh,  penuh emosi turut berkoar-koar
Saling beralibi, berargumentasi nan keras menggelegar

Dinamika politik jelang pilpres dua ribu sembilan belas
Fitnah keji, cela mencela, puja memuja semakin meluas
Menghiasi di seantero negeri  bumi pertiwi Nusantara
Yang Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu jua

Tegaklah NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesi

Kamis, 03 Mei 2019 07:17 WIB
Pangarakan, Bogor