Jumat, 06 Mei 2016

KELUARGA DEMOKRATIS NAN HARMONIS Karya: Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42 : Sajak dan Puisi Ki Slamet 42
Sabtu, 07 Mei 2016 - 09:31 WIB

"Image "Anak" ( Foto: SP )
Melihat anak sebagai pribadi yang personalitis

“KELUARGA DEMOKRATIS NAN HARMONIS”

Karya : Ki Slamet 42



Di dalam keluarga yang demokratis nan harmonis
Utamakan prinsip kebebasan berjalan demokratis
Orang tua  bertanggung jawab  dan  konsistensis
Melihatlah anak sebagai pribadi yang  personalitis
Seutuhnya dan bersikap elastis tidak otoriteristis
Maka geliat rumah tangga berjalan penuh dinamis

Kepada anak orang tua selalu welas asih memberi
Satu kesempatan tuk berkembang secara mandiri
Dalam ambil keputusan agar mampulah berkreasi
Mampulah menunjukkan segala potensi dalam diri
Lewat kebebasan dalam memilih pekerjaan sendiri
Hingga termotivasi tuk berkreasi dan berekspresi    
  
Adalah ciri-ciri keluarga yang demokratis tertera
Orang tua apresiatif pada pribadi anak seutuhnya
Orang tua, berupaya kembangkan kepribadiannya
Menganggap anak sebagai pribadi yang miliki daya
Miliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya
Beri kesempatan anak untuk buka atma pikirnya

Kebebasan anak hanya untuk kebaikan  bersama 
Artinya, kebebasan yang diberikan ada batasnya
Dibatasi rammbu-rambu sosial dan syariat agama
Yang harus dilakoni oleh anak dengan semestinya
Sikap tanggung jawab dan kesadaran mengemuka
Kental dengan nuansa kebersamaan
dalam bineka

Dengan begitu keluarga yang demokratis, mereka
Keluarga yang mampulah membangkitkan suasana
Penuh dengan hal-hal positif penuh pula dinamika
Menggeliat dalam harmonisasi ditaburi benih cinta
Saling tolong kerja sama  antara  anggota keluarga
Saling bantu dalam lingkungan masyrakat sosialnya


Bumi Pangarakan, Bogor
Jumat, 06 Mei 2016 – 10:24 WIB

 

Kamis, 05 Mei 2016

“GELIAT JIWA DALAM KATA” Karya : Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet : Sajak dan Puisi Ki Slamet 42
Kamis, 05 Mei 2016 - 16:39 WIB

Image ( Foto: SP )
Selok kecil di bukit Wukir

Ki Slamet 42 ( Foto: SP )
Ki Slamet 42 di Bromo 1984

“GELIAT JIWA DALAM KATA”
Karya : Ki Slamet 42

Ketika pergelangan kaki kananku terkilr
Karena terperosok lalu jatuh tergelincir
Di selokan kecil yang kotor tiada berair
Aku berupaya bangkit duduk di pinggir
Urut pijit pergelangan kaki yang terkilir

Setelah kurasa sakit di kaki menyingkir
Kuteruskan langkah susuri bukit wukir
Melewati jalan setapak becek berlendir
Sebab hujan rinai mulai turun melansir
Basahi rambutku yang kusut tak disisir

Sementara hembus angin bertiup semilir
Rintik-rintik air hujan mulai deras ngalir
Basahi daun-daun yang kelawar-keliwir
Segarkan segala tumbuhan bukit Wukir
Hanyut-sirnakan segala kekusutan pikir

Maka disaat raga mulai lelah ketar-ketir
Aku pun henti berjalan untuk berpakir
Duduklah aku di sebatang kayu berukir
Bertuliskan kata-kata bijak hijau kenikir
Seperti ajak aku gunakan akal dan pikir

“Sifat congkak itu bagai darah mengalir
Yang kotori jiwa dan amat berbau anyir
Sukar dilenyapkan karena kuat pelintir
Tapi bersihnya jiwa harus tetap berkelir
Lebihlah kuat dari sikap dumeh pandir”

 
Bumi Pangarakan, Bogor
Kamis, 05 Mei 2016 – 16:16 WIB