Rabu, 10 Februari 2016

“MISTERI JAM TIGA DUA-DUA PAGI” Karya : Ki Slamet 42

Sajak & Puisi Ki Slamet 42
Kamis, 11 Febuari 2016 - 13:04 WIB

 
“MISTERI JAM TIGA DUA-DUA PAGI”
Karya : Ki Slamet 42

Tepat pukul dua lewat tiga puluh di pagi hari
Alarem di HP Nokia jadulku nyaring berbunyi
Bangunkan aku darilah tidur yang lelap sekali
Peringatkan aku  agar cepat segeralah mandi
Untuk berangkat kerja lakukan tugas profesi

Sementara hujan lebat masih belum jua henti
Mengguyur basah kampung Pangarakan bumi
Basahkan becekkan jalan yang biasa aku lalui
Naik ojek si Kentung langgananku sehari-hari
Yang biasa antar aku  pergilah kerja tiap pagi

Sambil menanti kang Kentung aku teguk kopi
‘Tuk sirnakan rasa kantuk segarkan tubuh ini
Dari cuaca dingin nan mencekam gelap taguli
Aku dengar katak-katak bangkong  bernyanyi
Kidung nyanyian alam bahagiakan Ibu Pertiwi

Tepat pukul tiga lewat dua puluh Ketunggani 
Sipengojek yang selalu tepat pun datang pasti
Tiba di depan rumahku sudahlah siap menanti
Aku hampiri motor ojek dan segera naik pergi
Berangkat kerja laksanakan tugas profesi suci

Dibarengi guyur hujan yang  mulai kecil merinai
Dan hanya berpayung mantel hujan plastik mini
Maka berputar roda-roda motor beranjak pergi
Jalan kecil licin basah  dan becek  tetap dilalui
Ojek teruslah melaju di tengah jalan listrik mati

Persis di simpangan tiba-tiba motor oleng ke kiri
Dan terperosok di selok yang  airnya kotor sekali
Seragam sepatu baju tas celana basah tak terperi
Untung saja tiada luka di tubuh yang terasa nyeri
Padahal di dalam selok itu ada tertanam batu kali

Aku ikutlah bantu angkat motor ojek Ketunggani
Dari selokan kecil yang berair  kotor penuhlah tai
Sambil bersihkan baju  celana yang telah ternodai
Aku pun bertanya pada kang ojek si Kentunggani
Tentang sebab mengapa peristiwa itu bisa terjadi

Dengan ekspresi wajah yang nampaklah pucat pasi
Ketunggani menjawabnya penuh rasa takut ngeri,
“Entahlah pak, saya juga merasa heran sekali tadi,
Tiba-tiba saya lihat ada nenek-nenek menghalangi
Sambil rentangkan tangannya tunjuk arah ke kiri!”

Mendengar penjelasan dari Kang Ojek Kentunggani
Aku pun faham dan sadari dengan apa yang terjadi
Sebab peristiwa serupa aku pernah juga mengalami
Di waktu, jam, dan tempat yang sama  di daerah ini
Di jalan simpangan tiga tepat saat pukul  03:22 pagi

Kp Pangarakan, Bogor
Rabu, 10 Februari 2016 – 18:59 WIB  

Senin, 08 Februari 2016

“KUCINGKU SI MANIS BERNASIB TRAGIS” Karya : Ki Slamet 42

Sajak & Puisi Ki Slamet 42
Selasa, 09 Febuari 2016 - WIB

Image "Si Manis" (Foto: SP)
Si Manis
 
“KUCINGKU SI MANIS BERNASIB TRAGIS”
Karya : Ki Slamet 42

Di rumahku ada kucing jantan bernama si manis
Yang setahun lalu  kuambil di saat hujan gerimis
Di dalam selokan berair kotor yang berbau amis
Ngeang-ngeong iba  seperti suara bayi menangis
Mencari-cari  sang induknya yang matilah tragis
Digilas motor saat seberangi jalan sungguh miris

Si Manis berbulu kuning lembut,  lucu dan manis
Jika tidur maunya di kasur kamar tidur si Danis
Anakku yang marah jika kesenangannya digubris
Amat penyayang binatang  apa lagi pada si manis
Kucing yang cakap  menangkap tikus-tikus sadis
Yang selalu kerat karung beras  sampailah habis

Si manis seperti mengerti pada kemauan si Danis
Yang tak mau kamar tidurnya kotor berbau amis
Jika berak  dia langsung saja lari ke toilet Danis
Jilati bulu-bulunya hingga kembali nampak necis
Lalu berlari-lari kecil melompat kian kemari eksis
Pamerkan keberadaan dirinya yang miliki katarsis

Tetapi kucingku si manis sungguh bernasib tragis
Bernasib sama  seperti induknya yang tewas miris
Mati saat bertarung dengan musang pandan sadis
Di saat  melindungi ayam jago peliharaan si Danis
Lehernya luka menganga hampirlah  putus nyaris
Digigit si musang pandan  yang teramatlah bengis

Duka mendalam tiadalah terkira  Danis menangis
Gendong jazad si manis yang bernasib amat tragis
Lalu  galilah lubang kubur si manis dengan linggis
Di samping rumah persis di bawah pohon manggis
Yang berdaun lebat dan buahnya pun manis-manis
Selamat jalan kucingku yang lucu dan lugu si manis


Utankayu Selatan
Minggu, 08 Februari 2016 – 07:45 WIB

Minggu, 31 Januari 2016

"GUGURNYA ARYA SETA" Karya : Ki Slamet 42

Sajak & Puisi Ki Slamet 42
Selasa, 02 Febuari 2016 - 11:00 WIB

Arya Seta
 
Bhisma Dewa Brata
 
G u g u r n y a  A r y a  S e t a  
( Senapati Sweta Perlaya )
Karya: Ki Slamet 42 

Terkisahlah di dalam perang Bharatayuda
Sang pemberahi Sweta putera raja Wirata
Jadilah panglima perang pasukan Pandawa
Berkobarlah api jiwa mulia kepahlawannya
Gegap gempita tandangnya di medan laga

Tombak sakti nan serupa ular naga murka
Melesat dahsyat cepat laksana kilat buana
Menuju ke arah tubuh Bhisma Dewa Brata
Tokoh Astina pura yang sakti mandraguna
Tombak patah cuma melukai lengan Bhisma

Sang Senapati Sweta turun dari keretanya
Dengan membawa gada besar di tangannya
Gadanya pun diayunkan ke rahang Bhisma
Tapi Dewa Brata cepat lompat dari kereta
Kereta, kuda, dan sais luluh lantak binasa

Sang Bhisma pun menjadilah tambah murka
Maka panah api diarahkan ke tubuh Sweta
Mendesing melesat ke tubuh putera Wirata
Hingga tembus ke dalam dada sang panglima
Gugurlah senapati Sweta di medan kuru setra


Kp. Pangarakan, Bogor
Selasa, 02 Februari 2016 – 11:43 WIB