Jumat, 03 Juli 2015

“PERILAKU ITU BERUBAH DI SETIAP WAKTU” Karya : Ki Slamet 42

Image: Ki Slamet 42" ( Foto: SP )
Ki Slamet 42

“PERILAKU ITU BERUBAH DI SETIAP WAKTU”
Karya : Ki Slamet 42

Aku terjaga dari tidur lelap di saat sinar sang Surya pagi itu
Menembus jendela kaca kamar tidurku yang berdinding biru
Cahayanya hangat sengat terpa raut wajah keriput nan layu
Bagai kusen jendela yang mulai keropos dimakan rayap kayu
Gambaran wajah yang simpan banyak kisah laku di masa lalu
Tentang iman dan taqwa yang kini berubah dirampas waktu

Laku salehku secara vertikal horisontal telah jauh melompat
Mencelat entahlah ke mana tanpa bisa kucekal dan kucegat
Tak pernah lagi sholat,  jika dinasehat selalu gigih mendebat
Masuk ke lubang berlumpur noda bergumul dengan maksiat
Bersikap angkuh pada sesama dan suka sekali berbuat jahat
Palingkan muka,  busungkan dada di saat berjumpa sahabat

Tak mau kalah main perintah lakukan korupsi saat menjabat
Merasa palinglah kuat tiap ada kesempatan selalu mengerat
Bermuka merah, mulut suka berserapah matanya menjelalat
Pelotot sana pelotot sini berkacak pinggang macam pegulat
Mencengkeram membanting lawan hingga sampailah sekarat
Tak disadari bahwa yang dilakukannya itu jahat akan kualat

 Batin dan hati kecilku sebenarnya inginkan seperti dahulu
Saat kecil, lantunkan azan, bersama teman sholat di surau
Mencari kayu bakar, mengisi kolam, mengaji di rumah guru
Kendati salah membaca dipukul rotan kadang kayu bambu
Aku tetap jalani dengan senang hati,  karena aku tahu itu
Semua semata-mata hanya karena ‘tuk bekal rohani jiwaku

Sabtu, 04 Juli 2015 – 12:50 WIB
Ki Slamet 42 di Bumi Pangaran, Bogor

Kamis, 02 Juli 2015

“AJARANMU ITU SESAT DAN KELIRU” Karya : Ki Slamet 42

Image: "Ki Slamet 42" ( Foto : SP )
Ki Slamet 42
“AJARANMU ITU SESAT DAN KELIRU”
Karya : Ki Slamet 42

Mengapa kau merasa pandanganmu benar Siti Jenar?
Bahwa  kehidupan manusia di alam dunia marcapada
Sesungguhnya adalah hidup berada di alam kematian
Yang terdiri atas kehidupan  di syurga dan di neraka
Sebagaimana dasar acuan pikirmu, dalil Samarkandi:
“Amal mayit  pikruhi  fayatiju  kabilihu” yang berarti,
Sesungguhnya orang mati,  menemukan jiwa raganya
Dan,  akan memperoleh  pahala  syurga serta neraka
Dalam bentuk rasa suka bahagia, dan rasa duka lara
Yang dijalaninya di alam kematian, kehidupan dunia

Dalam pandanganmu hidup yang masih ada akhirnya
Seperti hidup di alam marcapada ini,  sesungguhnya
Bukan kehidupan melainkan kematian,  oleh  karena
Setiap yang hidup berakhir dengan mati adalah fana
Hidup itu  abadi,  ia selalu ada dan tak ada akhirnya
Hingga ke empat muridmu yang pandai  berprabawa
Ki Bisono Ki Danabaya Ki Canthula, Ki Pringgabaya
Yang cerdas, pintar, dan pandai itu berpikiran sama
Bahwa, dunia ini  adalah  alam kematian  yang hanya
Banyak berisi keburukan, kesialan, nestapa, samsara

Menurut pandangan pikirmu  dalam alam dunia fana
Yang adalah alam kematian,  manusia  dipenuhi dosa
Siang dan malam  bergumul dengan panas api neraka
Tidur berselimutkan rasa sehat  dan sakit perih luka
Siang  bergumul dengan rasa lelah, lapar dan dahaga
Lain halnya  apabila ‘lah bebas lepas dari alam dunia
Dari alam  kematian,  manusia akan hidup sempurna
Menuju ke  alam kelanggengan hidup kekal dan baqa
Yang tak ada pagi, siang, sore,  atau malam hari tiba
Kehidupan yang sebenarnya tidak ada awal akhirnya

Akibat  pengaruh  ajaran sesatmu bersama muridmu
Banyak  yang  mengulah ngelmu  dengan  berperilaku
Berbuat onar, bermabuk-mabukan,  membunuh  keji
Berbuat teror di sana sini bahkan sampai bunuh diri
Yang dipengaruh  ajaran religi sesat agar cepat mati
Untuk segera menuju ke alam kehidupan yang sejati
Hidup  sebenar-benarnya hidup di alam lestari abadi
Yang tak lagi mengenal  duka nestapa,  lara samsara
Yang dipenuhi  gelimang nikmatnya rasa  swargaloka
 Menyatu di dalam Zat Rab Maha Kekal Maha Baqa  

Kamis, 03 Juli 2015 – 12:08 WIB
Ki Slamet 42 di Kp. Pangarakan, Bogor

Rabu, 01 Juli 2015

“CAHAYA SANG SURYA ITU“ Karya : Ki Slamet 42

Image: "Sang Surya" ( Foto: SP)
Sang Surya

“CAHAYA  SANG SURYA ITU“
Karya :  Ki Slamet 42

Cahaya Surya pagi itu, berwarna putih keperakan
Sinarnya memancar menyelimuti bumi Pangarakan
Burung emprit mencicit di atas ranting dan dahan
Melantunkan tembang asri alam penuh keindahan

Cahaya Surya itu panaskan bumi saat tengah hari
Begitu menyengat, tubuh ini laksana terbakar api
Persawahan kering, burung-burung terbang pergi
Sungai Sadane pun keringlah tiada ada berair lagi

Cahaya Surya itu pun  mulai meredup di sore hari
Sinarnya tidak lagi menyengat seperti di siang hari
Sedikit demi sedikit, air Sadane pun  mengalir lagi
Suburkan persawahan tumbuhan alam pun berseri

Cahaya Surya itu, mulai terbenam di jelang petang
Sinarnya berwarna merah nampak terkesan berang
Melihat orang-orang di jalan yang masih lalu-lalang
Seperti tak dengar azan panggilan tuk sembahyang

Cahaya Surya itu, tiada nampak lagi di saat malam
Tenggelam di balik gunung  Gede yang menghitam
Seperti raksasa Rukmuka, Rukmakala muka hitam
Sang pemangsa, penghasut manusia ke alam kelam

Bumi Pangarakan, Bogor
Kamis, 02 Juli 2015 – 09:25 WIB