"Saat hatiku meradang kuungkap dalam puisi, Saat atmaku kembara melayang kuungkap juga dalam puisi, dan Saat hatiku resah, gelisah, senang, susah, kecewa dan marah-marah pun kutulis dalam puisi. Aku adalah puisi, dan puisi adalah aku, puisi dan aku sudah satu. Tak ada orang lain yang bisa melarang atau menggangu kesenanganku. Kp. Pangarakan, Bogor Minggu, 15 Febuari 2015 - 17:15 WIB
Sabtu, 07 Maret 2015
"KEDAI KOPI DI KAKI BUKIT PARIGI" Karya Slamet Priyadi
Karya: Slamet Priyadi
Meniti jalan setapak di kaki bukit Parigi
Di saat cahaya Surya sang Mentari pagi
Menelusup di celah - celah daun bambu
Di simpang kelokan jalan bertugu batu
Nampak dua ekor anjing berpadu satu
Saling ungkap
nikmatnya hasrat nafsu
Merasa terganggu sekali atas kehadiranku
Keduanya pun
menyalak keras ke arahku
Seperti lakukan
protes lalu berkata kelu,
“Wahai tuan, kami ini bukanlah sepertimu
yang masih memiliki etika dan rasa malu
Jadi, janganlah mengganggu kami di sini
Segera lewati jalan ini, jangan usik kami!”
Melewati gundukan semak jalan setapak
Di balik rimbun bambu dan pohon salak
Nampak dua ekor kera jantan dan betina
Sedang
ungkap libido hasrat senggama
Merasa terusik sekali dengan kehadiranku
Keduanya dengan wajah galak mata terbelalak
Menatap garang ke arahku seakan protes dan berkata,
“Wahai tuan, kami bukan sepertimu yang miliki etika
rasa malu
Jadi, lewati saja jalan ini! Dan, Jangan ganggu
kenikmatan kami”
Tak terasa waktu berganti, Sang Mentari pagi semakin meninggi
Aku teruskan melangkah meniti jalan setapak di kaki
bukit Parigi
Melewati kebun-kebun buah yang buahnya mulai ranum
memerah
Melewati
pematang sawah yang padinya mulai kuning sumringah
Ketika peluh basahi seluruh tubuh, dan rasa lelah
mulai mengeluh
Saat jalan merunduk menatap ilalang, dua wanita menyapa manja
Dengan tingkah menggoda yang sungguh mengundang hasrat
jiwa
Kedua wanita itu gandeng tanganku tanpa malu sambil
berkata-kata
“Wahai tuan kami tahu, tentu tuan seperti juga
tamu-tamu yang lain
Mampir di kedai kami! Di sini tersedia bermacam kopi
kehangatan
Kami pastikan akan sesuai dengan selera rasa yang tuan
inginkan!”
Aku henti berjalan,
rehat istirahat untuk kembali segarkan badan
Duduk santai di
kedai pesan secangkir kopi dan setatakan gorengan
Dengan sikap
kemayu pelayan kedai itu
buatkan kopi pesananku
Sambil
menawarkan kopi kehangatan
hasrat seks tak malu-malu:
“Tuan, tadi ada tiga
orang dari kota, sekarang pun masih di dalam
Biasa tuan, apakah tuan
juga berkeinginan sama seperti mereka?”
Ucap
perempuan pelayan kedai kopi itu sambil
tertawa cekikikan
Aku diam tak jawab pertanyaan itu, jiwaku jadi rasa
makin tertekan
Segera aku bayarkan
secangkir kopi dan gorengan yang aku pesan
Sambil menggerundel,“Benar-benar tak punya etika dan
rasa malu!”
Dan aku segera cepat berlalu melangkah pergi dari
kedai itu
Bumi Pangarakan, Bogor
Minggu, 08 Maret 2015 – 03 :46 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)

