Sabtu, 07 Maret 2015

Uang Hilang Secara Misterius ( Tuyul Di Kp. Pangarakan )

TUYUL BERGAJUL ITU KEMBALI MUNCUL
Karya Slamet Priyadi

Makhluk gaib si Tuyul bergajul itu kembali muncul
Bertubuh kecil berperut buncit  berkepala gundul
Dari lubang sumur terus melangkah masuk rumah
Matanya membelalak merah seperti orang marah
Di saat petang ba’da azan maghrib berkumandang
Hari Kamis malam Jumat saat hujan gerimis datang

Aku masih tetap tak peduli Tuyul itu menggerayang
Masuki kamar belakang tempat aku rebah selayang
Istriku tiada lihat si Tuyul itu,  dia duduk saja tenang
Saksikan televisi berita DPRD dan Gubernur perang
Argumentasi rasa benar sendiri dengan hati berang
Sungguh satu tontonan yang buruk untuk di tayang

Muak lihat tontonan yang cuma penuh perdebatan
Aku matikan TV ganti putar lagu-lagu religi rohanian
Tembang rohanian sirnakan wujud Tuyul bergajulan
Yang gaib lenyap sirna seketika hilang lari melayuan
Sementara aku dan istriku duduk rehat berlonjoran
Pikir aku serasa stagnan seperti berjalan tak karuan

Dalam keadaan pikir yang kosong muncul kesadaran 
Aku teringat pada uang gaji yang baru saja kuberikan
Pada  sang istri untuk belanja  rumah tangga sebulan
Aku tanya sang istri apa gaji itu masih utuh tersimpan
Saat dihitung ternyata uang gaji berkurang satujutaan
Peristiwa ini mungkin mengada-ada hanyalah karangan
Dan, itu bisa diterima karena tak langsung mengalaminya
Namun,bagi para tetangga se kampung yang pernah sama
Merasakan dan mengalaminya langsung pastilah ia percaya
Tentang uang hilang secara gaib di tarik sang tuyul bergajul

Sabtu, 07 Maret 2015 – 9:30 WIB
Slamet Priyadi di Bumi Pangarakan, Bogor

"DALAM DIRI KITA" Karya Slamet Priyadi

Arjuna ngelmu kasunyatan
DALAM DIRI KITA
Karya Slamet Priyadi

Dari alam kegaiban,  lewat  gelora pria dan wanita
Maka Lahirlah kita  wujud  sukma  jelma  manusia
Yang  tercipta dari anasir air, api, tanah, dan udara
Lalu  langlang  kembara sementara di  marcapada

Bersama daging, darah, adi ari-aripun jadi marwah
Jadi segala daya kekuatan rohaniah dan jasmaniah
Nafsu  aluamah,  amarah,  supiah, dan  mutmainah
Mulhimah kita adalah rupa panglima pemberi arah

Dalam diri kita  ada jiwa, sifat dan watak dasamuka
Tamak,  rakus, serakah penuh nafsu angkara murka
Dalam diri kitapun ada sifat dan watak Kumbakarna
Tak pernah salah,  tak mau kalah,  dan cepat murka

Dalam diri kitapun ada sifat dan watak Sarpakenaka
Selalu  mengutamakan birahi  libido tiada bisa  dijaga
Dalam diri kita,  juga ada jiwa, sifat  watak Wibisana
Yang  penuh  kejujuran,  kebenaran, kesucian utama

Dan sekali waktu, jiwa dan raga kita adalah milik kita
Dan  pada  saatnya  kelak,  jiwa dan raga kita semua
Pasti kan menuju ke  sana, kembali  keharibaan-Nya
T u h a n   Sang  Maha  Pencipta  Sang  Maha segala

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 07 Maret 2015 – 17:13 WIB

Jumat, 06 Maret 2015

"KITA MEMANG EGOIS" Karya Slamet Priyadi


Image "Slamet Priyadi" (Foto: SP )
Slamet Priyadi
KITA MEMANG EGOIS
Karya Slamet  Priyadi

  Kenapa, kita mesti  selalu  berdalih  mengalih
  Pada  sesuatu  yang sudah jelas  harus  dipilih
  Kebenaran Tuhan  itu  harus kuat  digenggam
 Jadi  ageman bersikap, bertindak, bergumam

Tetapi  kita manusia  memang  seringlah  lupa
Bahkan sering kali alpa karena  keegoan  kita
Bersikap egoistis, apatis, cuek,  dablek, kasar
Tiada  mau  mendengar,  merasa  paling benar

Yakh, itulah kita, maaf, bukan kamu atau anda
Juga bukan kita semua, tapi adalah aku sendiri
Di sini dalam hati yang maunya menang sendiri
Egois dalam segala hal, di dalam segala perihal

Bumi Pangarakan, Bogor
Kamis, 05 Maret 2015 – 20:42 wib

Selasa, 03 Maret 2015

DI SAAT PAGI HARI NAN CERAH Karya Slamet Priyadi

Terbitlah Sang Surya Pagi ( Foto: SP )
Terbitlah Sang Surya Pagi
DI SAAT PAGI HARI NAN CERAH
Karya Slamet Priyadi

Sekelompok burung bangau  itu  berterbangan bersamaan
Tembus  gumpalan  kabut  putih yang selimuti persawahan
Burung-burung kutilang di ranting pohon durian bersaltoan
Senandung  bersiul riang tembangkan kidung  kebahagiaan
Di  pohon  rambutan  burung cabe-cabean saling bercuitan
Sambut  Sang Mentari  pagi yang bersinar putih keperakan
Yang  cahayanya  cerahkan, segarkan, dan sehatkan badan
Hingga sadarkan aku dari  tidur lelap yang berkepanjangan

Kukucakkan mata  tatap ke luar jendela dari lamin panjang
Kupu-kupu terbang  mengitari bunga-bunga dan kembang
Yang banyak  tumbuh subur hiasi halaman rumah belakang
Sementara  dari  liang batang pohon kayu yang telah usang
Ke luar ular kobra  mangsa seekor iguana bernasib malang
Yang  meronta-ronta  sebentar lalu nyawanyapun melayang
Ular kobra lari menjalar kembali ke liang tempat bersarang
Sebab  perut  telah  terisi  mangsa yang membuat  kenyang

Nun jauh di sana,  hamparan sawah yang luas membentang
Di lereng bukit kaki  Gunung salak yang nampak kerontang
Mengalun kidung alam dinamika con fiesto katak bangkang
Mantra  penurun hujan  agar air  melimpah ruah mengubang
Sang katak bangkang, dan ikan-ikan berenang-renang riang
Tiada waspada sedikit pun bangau-bangau berkaki panjang
Terbang kitari  hampar  sawah berkubang  melayang-layang
Lalu menukik  tajam mangsa  ikan-ikan dan katak bangkang
Yang  sebentar  kemudian  nyawa  merekapun  lenyap hilang

Sesaat  saja  pagi hari nan  cerah  berganti  mendung hitam
Hujan turun begitu lebat tak bisa lagi dihalang dan diredam
Angin topan dan badai  mengamuk  cuaca  semakin  kelam
Guntur  menjelegur,  lidah petir  menjulur  mangsa  isi  alam
Tanah  lonsor, banjir, petaka melanda semuanya bermuram
Di dalam sedih dan nestapa yang tiada tara larut dan karam
Sadarkan  segala  sikap perilaku dumeh, pongah, dan  mam
Munafik, angkuh, angkara murka, tamak dan bersifat kejam

Minggu, 01 Maret 2015 – 17:27
Bumi Pangarakan, Bogor